'/>
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Monday, March 12, 2012

Titel tak selalu penting


Mungkin Anda sepakat bahwa semakin banyak pakar yang bersedia berbagi karena orang yang benar-benar pakar (pakar yang asli) adalah orang yang melakukan segalanya untuk bisa membawa orang lain pada kehidupan yang lebih baik, dan hal terpenting yang harus dilakukan untuk mewujudkan cita-cit tsb adalah mengkomunikasikannya kepada orang banyak. Para Pakar itu menghabiskan waktu, tenaga bahkan uang, demi melakukan suatu perubahan dan perubahan itu sulit terjadi tanpa gerakan dari orang lain (di luar dirinya). Makanya mereka terus berbagi dan akan terus berbagi. Manusia itu kan makhluk sosial.

Apa makna besar yang sesungguhnya ingin saya sampaikan?

Bahwa jika Anda setuju atau yakin dengan ini semua, maka Anda akan tiba pada kesimpulan bahwa tidak ada lagi penghalang bagi Anda untuk belajar.
Anda tidak perlu bersedih dan menyesali diri gara-gara Anda gagal masuk ke sekolah favorit yang diagung-agungkan orang banyak.
Anda tidak perlu bersedih dan menyesali diri gara-gara Anda gagal masuk ke perguruan tinggi (entah itu karena tidak punya uang atau tidak lolos dalam tes).
Anda tidak perlu bersedih dan menyesali diri gara-gara Anda gagal masuk program Pasca Sarjana.
Anda tak perlu kecewa bila tidak punya uang untuk kursus bahasa Inggris.
Anda tak perlu merasa minder karena Anda tidak berstatus PNS, tak berpakaian dinas, atau Anda seorang Ibu Rumah Tangga yang tidak punya jabatan di kantor.
Anda tak perlu sedih dan menangis atau pun cemburu melihat orang-orang yang tampak sibuk pergi kuliah atau pergi kerja di kantor.

Anda bisa berpendidikan tinggi tanpa masuk ke institusi pendidikan tinggi.

Percayalah, ada orang yang masuk perguruan tinggi itu kadang-kadang hanya membuang-buang waktu dan uang. Kok bisa? karena mereka tidak paham bagaimana menjadi pelajar yang benar/berkualitas. Artinya Anda bisa mengalahkan orang itu.

Nah lalu bagaimana dong caranya. Anda mungkin mulai bertanya “Bagaimana mungkin saya membuktikan bahwa saya yang tanpa titel bisa mengalahkan yang bertitel???”

Sekali lagi, ini mungkin terjadi. Bagaimana caranya???

Anda memerlukan kesadaran, kesungguhan, dan rasa keingintahuan yang tinggi.
Anda perlu memanfaatkan kawan-kawan atau orang sekitar Anda untuk bertanya dan belajar? Anda harus punya keinginan kuat untuk meraih yang Anda cita-citakan. Anda harus bisa memanfaatkan waktu. Anda bikin kurikulum sendiri, maksud saya membuat target sendiri apa yang Anda ingin pelajari dari hari ke hari, minggu ke minggu atau bulan-ke bulan. Tak ada kurikulum yang membatasi Anda. Anda bahkan bisa membuat kurikulum sendiri. Beda dengan kurikulum sekolah, kalau gurunya kurang ngerti, kurikulum itu bisa hanya menjadi penghalang anak untuk belajar atau untuk maju.

Hal yang tak kalah pentingnya, dan ini rumus yang paling jitu yaitu Anda harus bisa mengeksploitasi teknologi yaitu Internet untuk kepentingan kemajuan Anda, memanfaatkannya sebagai sumber dan alat belajar. Belajar untuk kepentingan kebaikan diri, keluarga dan orang banyak.

Ingat apa kata Albert Einstein “Know where to find information and how to use it = tha’s the secret of success” , bahwa rahasia kesuksesan adalah mengetahui di mana mendapatkan informasi dan mengetahui bagaimana menggunakannya.

Jangan lagi mengeksploitasi sumber daya Alam Indonesia yang sudah banyak dilakukan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab. Tapi kita harus eksploitasi Internet ini agar kita mendapatkan manfaat sebesar-besarnya.

Hal yang selalu dikedepankan. Jangan melakukan sesuatu karena uang, tapi lakukan yang terbaik dan uang itu akan datang sendiri. Percayalah, ada kemauan pasti ada jalan. 
Saya ingin mengatakan pada diri saya dan pada kawan-kawan yang sudah punya titel, bahwa jangan pernah kita memandang remeh atau memandang rendah mereka yang tidak punya titel, karena Sang Maha Esa yang menciptkan kita semua juga tidak pernah melihat titel. Dia hanya mengukur dari kebaikan hati dan perbuatan baik makhluknya.

Bagi kita yang sudah bertitel, sekali-sekali perlu bercermin diri, apakah titel itu memang pantas untuk kita sandang. Jika belum, ini hanya berarti, kita perlu terus belajar dan berusaha meningkatkan kapasitas diri. Bukankah Sang Maha Pencipta, Sang Maha Mengetahui selalu menilai proses atau upaya yang kita lakukan (tak peduli apakah diapresiasi atau tidak oleh orang persekitaran kita).

Bagi yang sedang menempuh pendidikan untuk meraih titel. Percayalah titel bukan jaminan bagi Anda untuk hidup sukses ke depan kecuali  jika titel yang Anda miliki disertai dengan kompetensi unggul. Ingat juga banyak kompetensi yang tidak bisa Anda bangun jika hanya bergantung pada kuliah. Apalagi kalau dosen Anda tidak uptodate, yg dikuliahkan sama saja dg materi kuliah 10 atau 20 tahun yang lalu.Untung baik jika guru atau dosen Anda mampu memberi Anda wawasan luas dan motivasi. Tapi jika mereka sibuk memberikan materi yang boleh jadi tak bermanfaat/tak Anda butuhkan ke depan, wah hati-hati.

Friday, December 16, 2011

Guru Kualitas Yang Baik?? Seperti Apa Ya??

Seorang guru yang baik ? Kira-kira sulit untuk menemukan hari ini! Penulis juga sadar diri kok, jadi tenang aza yach, hehehe. Jadi seperti apa yang kualitas dari seorang guru yang baik? Di sini, izinkan saya berbagi pemikiran saya dengan Anda. Jika artikel ini kurang menarik, silahkan tinggalkan saja, tidak ada paksaan bagi Anda untuk membacanya . :-)

Guru, sejak dulu kala telah diakui sebagai profesi yang mulia, profesi tanpa tanda jasa. Sebuah profesi dimana ada martabat, penghormatan, dan kebaruan yang tidak dapat ditampilkan secara nyata, tanpa produk yang nyata, dan tanpa ada pengakuan yang nyata terhadap produk yang di hasilkan. Siapakah produk yang dihasilkan oleh seorang pendidik ? Itu jelas, pastilah siswa kita. Adakah siswa yang ingat akan jasa kita mendidiknya setelah mereka sukses, adakah siswa yang selalu bersyukur atas apa yang diterimanya dari kita ? Jarang sekali ada, bahkan kebanyakan mereka lupa. Itulah resiko dan tugas guru, tidak akan menuntut apapun , bahkan jika kita dituntut untuk menindak masalah yang kita sebabkan oleh hal yang telah kita ajarkan tersebut adalah salah. Menuntulah mereka jika kita salah dalam mengajarkan apa yang telah kita ajarkan kepada mereka. Mencoba untuk berbagi apa yang Anda tahu dengan orang lain dengan cara transisi dan transmisi pengetahuan mulus dan tanpa cacat, imposibel, pasti ada sedikit cacat, jika cacat maka itulah sebuah seni mengajar itu sendiri - bagi saya.

Tanpa cacat mengajar? Sungguh tidak mungkin, bahkan untuk guru berdedikasi, bersertifikasi, ber plat "Genderal Manager Education" sekalipun. Seorang guru yang baik adalah dapat menemukan dan menkatrol bakat terpendam pada anak hingga bakat tersebut tertunjuk di masyarakat. Seorang guru SD, SMP, SMA, bahkan dosen sekalipun, harus mampu untuk hal ini. Semua komponen guru harus memiliki hal ini untuk apap ? Untuk mengimbangi potensi murid agar terus terjaga dan tumbuh sesuai laur yang diharapakan. Coba bayangkan saja\, seandainya anda adalah guru SD, umpamanya kelas 3, Namun di kelas empat kemampuan guru tersebut sungguh sangat ironis, lalu, bagaimanakah nasib siswa anda yang kelas 3 tersebut setelah naik kelas 4 ? bagaimana jika di kelas 5 memiliki guru yang bergerak ala kadarnya ?? Game Over...Maka dari itulah semua komponen harus bekerjasama, tak mungkin hanya jika satu orang guru yang berdiri dan mengacukan jari telunjuknya ke depan siswa dan berkata " Ayo semangat .. !". Apa yang Anda pikirkan sekarang?? Seperti apa kualitas guru yang baik? Satu belevel 9 , satu anjlok, satu drop out. Sungguh sudah menjadi sebuah lembaga pendidikan yang benar-benar berkompeten dalam memajukan kualitas produknya. Sekarang marilah anda simak beberapa kutipan yang saya tulis ala kadarnya ini.


Apa yang membuat guru yang baik setelah semua? Selain latar belakang pendidikan yang menuntut profesi ini, kualitas seperti kesabaran, belas kasih dan inovasi sangat penting juga diperlukan. Jadi di sini ada beberapa jawaban untuk sebuah kualitas guru yang baik. Baca dan Anda dapat mengambil manfaat dari apa yang ada disini, jika pekerjaan mengajar adalah apa yang Anda cari dan apa yang anda jihadkan !!.

Menanamkan ...
Apa yang anda tanamkan ?? Menanamkan rasa haus akan pengetahuan! Anak-anak bermain, tidak peduli di usia kelompok mana mereka berada sekarang. Jangan mengutik-utik guru honorer, karena siswa anda tidak pernah memanggil meraka dengan sebutan " Pak Guru Honorer", begitu juga dengan anda , Apakah mereka juga menyebut anda dengan sebutan " Pak Guru PNS !!" ?? Tidak mungkin, saya kira tidak ada sejarah yang menyebutkan begitu. Maka bergeraklah dan tanamkan lah pada diri anak anda apa yang meraka cari, Anda , baik guru Honorer dan PNS, tak ada bedanya, jika anda mengerti ini, ini akan sangat membantu merangkaknya kualitas pendidikan kita. Mengumpulkan perhatian mereka adalah tugas "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Namun sebagai guru yang baik, apakah itu dengan mudah ?? Bagaimana? Ganti konsep "keserakahan sebagai simbol" dengan "keserakahan sebagai pengetahuan". Merancang teknik untuk membuat menarik siswa Anda. Saya rasa Anak-anak akan bergairah dan mengambil hal-hal langsung yang intrik dalam diri mereka, yang ada pada mereka, yang mereka punya serta minat mereka. Jika matematika, libatkan mereka dalam beberapa permainan matematika keren atau beberapa teka-teki membingungkan untuk membantu mereka menyapu otak mereka! Bantuan anak dengan konsep tersebut, gunakan media, komunikasi yang lancar , dan pergerakan tubuh anda yang seru. Pandu anak melalui masalah, jika ia tidak mengerti, tawarkan solusi cepat yang cepat, buat otak mereka sinkron dengan rencapa pembelajaran yang anda buat. Buatlah dia merasakan bersukacita menjelajahi solusi dengan dirinya sendiri dengan bantuan anda dan mengerti apa yang dia telah pelajari dan saya yakin, anak tidak akan pernah melupakannya, apa yang telah ia pelajari dengan upaya mereka sendiri!

Temukan dan Doronglah ...
Temukan bakat tersembunyi mereka yang berada di belakang layar! Setiap anak adalah unik dan tidak satupun dari mereka yang lemah. Tidak ada yang namanya Gen Pintar dan Gen Bodoh. Itu adalah teori masa lalu yang seharusnya tidak dibawa pada masa sekarang. Dulu saya pernah membaca masalah Mitos Otak Tetap, di buku tersebut bahwa gen bergerak tatap , namun sebenarnya setiap gen manusia dapat berfluktusi berubah sesuai dengan kondisi lingkungan hidup mereka, sel-sel otak berkembang khusus untuk jangka waktu tertentu mengikuti pola interaksi aktivitas mereka. Contohnya Seorang anak dari atlet golf Jack Nicklaus yang benama Gary Nicklaus , namun gary hanyalah seorang atlet golf yang hanya bisa disebut baik. Dia haru berlatih bertahun-tahun sebelum masuk ke peserta PGA Tour. berjuang selama sembilan tahun agar bisa masuk ke kualifikasi PGA Tour. Nah ternyata tidak ada yang namanya "Gen Golf " atau pun gen sebutan lainnya !!! Tidak diragukan lagi bahwa gen memaikan peranan besar, namun pengalaman kita dan siswa lah yang menciptakan komplektivitas terbesar dan variasi terluas dalam otak kita. Masing-masing dari mereka menginginkan bakat tersembunyi mereka menunggu untuk ditemukan pada waktu yang tepat oleh anda sebagai guru. Didalam sebuah kelas yang memiliki banyak anggota kelas, kemudian ada yang tertinggal dan tidak juga paham dengan apa yang anda ajarkan bukan nberarti mereka bodoh. Ini berarti, mereka membutuhkan perhatian! Sebagai seorang guru, seseorang harus monitor tidak hanya perkembangan akademik seorang anak, tetapi juga pertumbuhan pribadi dan ekstrakurikuler anak. Siapa tahu, kelas Anda mungkin memiliki orator terbaik, atau penyanyi terbaik atau pemain terbaik Liga Indonesia ? Siapa tahu,,, :-) . Bukan hanya bakat fisiknya, namun interaksi, respon, ketangkasan mereka dapat anda pupuk secara tidak langsung di dalam kelas yang anda bina.
Tantangan nyata bagi guru terletak di gairah untuk mengubah seorang siswa yang tidak begitu lincah dan pintar dalam belajar ! Dan lakukan serangan kecil yakni penghargaan , sekarang dan kemudian, atau mereka tidak akan pernah menemukan bakat mereka. Lakukan sesuatu ketika Jadwal " Pengembangan Diri " dimulai. Seorang guru yang baik akan menemukan seperti apa bakat yang tersembunyi meraka dan memelihara serta mengawasinya agar nantinya ia berdiri terpisah di keramaian!
" Siapa dia ? Itu Jono, dia pemain handal " ..., ( Anda pun dengan senyum melihat salah satu siswa anda suatu saat berada ditengah-tengah lapangan permainan Liga indonesia).

Interaksi ...
Berinteraksi sebanyak mungkin! Seorang guru yang baik akan lebih sering berinteraksi dengan semua siswanya! Ketika mengajar konsep, pastikan untuk meminta siswa banyak bertanya. Karena, segala sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak, sesuatu yang baru bagi mereka adalah sebuah pertanyaan, mereka akan mengawang-awang dengan pertanyaan seperti "mengapa", "bagaimana" dan "apa", dengan persepsi visual yang mereka miliki sebelum Anda membantu mereka memcahkan apa yang menjadi sebab keingintahuan mereka. Jadi, untuk seorang guru penting bahwa bahasa tubuh, ekspresi wajah dan gaya presentasi harus sinkron dengan konsep subjek, yang sedang diberikan dalam sesi belajar mereka. Anda juga bisa membuat sebuah titik untuk mempersiapkan suatu sesi kuesioner pada hari sebelumnya dan meminta mereka dalam sesi berikutnya. Ini adalah sebuah pos pemeriksaan bagi siswa, yang akan membuat mereka tetap proaktif dan waspada sepanjang waktu. Juga, mendorong kerja tim di sesi kelas Anda. Ini akan membantu siswa memahami arti dari "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh".

Jadilah Inovatif...
Kreativitas merupakan aspek yang dikuasai oleh gairah, gairah tentang apa yang ingin mereka ketahui. Dan ini adalah salah satu kualitas yang paling penting dari seorang guru yang baik. Ketika Anda mendidik anak, titik penting adalah apakah ia tetap mempertahankan apa yang telah diajarkan atau tidak. Dan itu dapat diketahui jika metode mengajar yang anda lakukan mengasyikkan. Buatlah subyek Anda menarik dan Anda akan memiliki kelas penuh dengan mata dan telinga yang penuh dengan keingintahuan , menyerap di setiap sesi yang Anda sampaikan. Lagi pula, siswa harus belajar keluar dari dorongan dan bukan karena paksaan! Misalnya, Matematika merupakan subjek permainan asah otak . Mendorong siswa untuk mencoba cara yang berbeda untuk memecahkan masalah yang sama dan Anda akan yakin pada akhir sesi bahwa setiap anak merupakan seorang yang jenius dalam dirinya sendiri. pengajaran di kelas Inovatif melibatkan gairah, perhatian dan sikap positif terhadap profesi. Siapa tahu, Anda mungkin bisa belajar banyak dari siswa Anda.

Jadilah Model ...
Jika Anda ingin siswa Anda untuk unggul, maka Anda yang harus berprestasi terlebih dahulu! Ya kan ?? Jadilah teladan bagi siswa Anda. Berfikir terbuka adalah apa yang baik harus memiliki seorang guru dan pada saat yang sama pula, Anda memberikan yang sama kepada siswa. Anda mungkin mendapatkan satu set variasi siswa setiap tahun, di mana beberapa siswa mungkin akan terkenal, beberapa mungkin introver, beberapa mungkin menghilang, namun beberapa orang lain mungkin akan acuh tak acuh. Tapi ingat, semua siswa yang tidak mampu mencapai target mereka membutuhkan bantuan dan satu-satunya orang yang bisa memberi mereka di separuh hari mereka adalah Anda dan Anda sendiri! Untuk menjadi teladan kepada siswa, ketenangan, kasih sayang, kesabaran dan ketekunan adalah ciri-ciri kunci untuk guru. Hal ini akan membantu dalam memahami psikologi anak-anak, untuk mengukur perkembangan anak. Bagaimana mereka tumbuh, bagaimana prilaku mereka di lingkungan mereka. Tak harus 24 jam mengontrol. Luangkan waktu sedikit untuk bertanya kepada orang terdekat mereka. Teman, keluarga, atau bahkan orang tua mereka. Hal ini mungkin sulit, namun jika mereka melihat Anda sedang mengawasi mereka, dimana setiap harinya Anda melakukan prosesi yang bijak, maka meraka juga akan memperhatikan Anda. Meraka akan berfikir bahwa sangat perhatian dengan meraka.
-----------------------------------------//
Kualitas seorang guru yang baik datang ditahun-tahun melalui pengalaman dan pemahaman dan pasti banyak karena pilihan. kualitas guru yang baik, yang telah dinyatakan di atas mahir untuk guru yang mengajar di sekolah menengah. Namun untuk menjadi guru sekolah di Usia Dasar (SD/PAUD), hal-hal yang dapat menjadi sulit dan rumit, sebagai anak-anak kecil, keras kepala, sering tidak "mood" dan sangat nakal. Mengajar anak-anak kecil tersebut dapat menjadi materi Anda dan patut Anda coba! Jadi apa kualitas guru yang baik untuk Usia Dasar?

Seorang guru Usia Dasar bisa dibantu dengan tingkatan yang luar biasa terhadap kesabaran dan antusiasme, dengan faktor kasih sayang dan kreativitas yang menyertainya. Dia adalah satu, yang selalu harus memiliki senyum memikat menari di wajahnya! Senyum adalah salah satu senjata terbaik untuk memulai suatu hubungan dengan anak. Selain itu, guru harus menjadi pendengar yang sangat baik untuk obrolan yang tak henti-hentinya dari anak-anak Usia Dasar. Selain itu, guru harus memahami kebutuhan anak dan harapan orang tua dan bertindak berdasarkan latar belakang keluarga meraka. Jangan memaksa mereka menciptakan "apel", jika yang mereka punya adalah "jambu". Sebuah pendidikan adalah suatu keharusan, bahkan untuk Usia Dasar, namun harus diingat, kita buka mengajar, tapi kita mendidik , membimbing, pengayom, kita bukan menciptakan , namun mengolah. Walaupun bahan dasarnya adalah "tanah liat", namun tak dapat disangkal bahwa "guci" yang harganya jutaan pun juga terbuat darinya. Perhatian bentuk dedikasi kurikulum pengajaran di Usia Dasar, di mana setiap anak membutuhkan perhatian yang didedikasikan untuk pengembangan pribadi. Mengolah potensi yang ada pada mereka !

Jadi ini yang harus saya katakan tentang tanggung jawab seorang guru. Harap Anda tahu sekarang, apa dan bagaimana kualitas guru yang baik. Seperti anak, setiap guru juga unik karena ia datang dengan teknik pengajarannya yang unik. Tetapi kualitas yang penting yang melebihi kualifikasi apapun adalah semangat, semangat untuk mengajar! Seorang guru didorong yang didorong oleh semangat pasti akan menghasilkan siswa yang paling cerdas dan disiplin! Ketika saya mengakhiri artikel ini untuk kualitas guru yang baik, saya ingin mengutip baris Henry Brook Adams:

"Seorang guru mempengaruhi keabadian, ia tidak akan pernah tahu di mana pengaruhnya akan berhenti ..."

Soo, jadilah seorang guru yang bersemangat !!!.

Wednesday, December 7, 2011

Memperkenalkan Sang Guru

Charlotte Mason memang bukan guru biasa.

Ketika para edukasionalis di zamannya menganggap anak seperti ember kosong, yang baru berisi jika dituangi pengetahuan oleh guru, atau ranting pohon yang bisa dibengkak-bengkokkan ke arah mana pun guru mau, atau lilin plastis yang bisa dibentuk sesuka hati para pendidiknya, Charlotte meyakini anak-anak adalah jiwa dengan kedalaman dan kekayaan spiritual tak terbatas, ibarat obor yang sudah penuh minyak, hanya menunggu pantikan api kecil untuk bisa menyala berkobar-kobar.

Ketika para filsuf di negerinya berasumsi bahwa jiwa manusia itu tabula rasa, anak-anak ibarat lembaran putih polos yang menunggu untuk ditulisi, Charlotte berkata bahwa sejak semula anak adalah pribadi yang utuh, terlahir lengkap dengan berbagai hasrat, emosi, hati nurani, dan bakat. Pribadi itu akan terus menyingkapkan diri, sampai terungkap sepenuhnya, seturut pertambahan usianya. Orangtua dan guru hanya membantu agar pribadi itu mekar dalam segala kekuatan latennya, mengatasi kelemahan-kelemahan bawaannya.

Ketika masyarakat di eranya menganggap bahwa anak-anak keluarga miskin ditakdirkan menjadi orang berintelek rendah, percuma dididik karena kelak tetap akan menjadi ‘keset sosial’ dan warga tak beradab; bahwa anak-anak perempuan cukup belajar di rumah saja sebab toh mereka hanya akan menjadi istri dan pengurus rumah tangga, Charlotte menyuarakan pendidikan liberal bagi setiap anak tanpa membedakan ras, strata sosial, ataupun gender. Ia yakin setiap anak terlahir setara, oleh karena itu berhak, dan mampu, mengenyam kesempatan pendidikan yang setara. Namun untuk menjalani metode pendidikan yang “memuaskan anak-anak tercerdas dan menyingkap inteligensi anak-anak terlamban” Seorang guru pertama-tama harus yakin bahwa potensi kecerdasan itu memang tersimpan dalam diri semua anak.

Ketika para orangtua kebanyakan memandang anak sebagai ‘harta milik’ pribadi mereka, dan berpikir bahwa tugas mendidik anak cukup dipasrahkan kepada pengasuh, guru privat, dan lembaga sekolah, Charlotte menegaskan bahwa orangtua tidak boleh dengan seenaknya berkata, “Ini kan anakku! Aku bebas mendidiknya dengan cara apa saja!”. Anak-anak adalah kekayaan yang dititipkan Tuhan dan umat manusia kepada orangtua. Ibu dan ayah bertanggung jawab lebih dari siapa pun di bumi ini untuk memastikan bahwa anak-anak itu akan tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebaikan bagi masyarakat. Dan pendidikan di sekolah bukanlah yang terutama. Sesungguhnya, kata Charlotte, pendidikan di rumah jauh lebih penting ketimbang pendidikan di sekolah, sebab pengaruh yang anak terima di rumah membekaskan kesan mendalam yang akan menentukan karakter dan karirnya kelak. ”Menjadi orangtua itu luar biasa: tidak ada promosi, kehormatan, yang bisa dibandingkan dengannya. Orangtua seorang anak bisa jadi membesarkan sosok yang kelak terbukti sebagai berkat bagi dunia.”

Ketika para religius meyakinkan orangtua untuk mengandalkan agama dalam membangun karakter dan moral anak-anak mereka, Charlotte dengan berterus terang berkata bahwa tidak cukup membesarkan anak hanya dengan berharap dan berdoa. Agama memang sangat penting dalam memberi inspirasi dan batasan moral, tetapi ada hukum-hukum Tuhan yang berlaku secara universal dalam mengasuh anak. Hukum-hukum fisiologis dan psikologis, seperti bagaimana otak bekerja atau bagaimana proses kejiwaan anak berlangsung, bukan milik eksklusif salah satu agama saja. Tak ubahnya hukum gravitasi, orang yang taat beragama akan merasakan kerugian besar jika melanggar hukum-hukum itu dan, sebaliknya, orang yang sekuler bisa berhasil mendidik anak dengan baik jika menaatinya.

Charlotte Mason lahir di Inggris tahun 1842 dan menikmati pendidikan di rumah dari kedua orangtuanya, sebelum ia menjadi yatim piatu di usia enam belas tahun. Tetapi sebelum tahun yang menyedihkan itu, Charlotte muda sudah membulatkan tekad untuk mengabdi di bidang pendidikan. Seorang perempuan progresif yang banyak berpikir, ia bekerja sambil merenung, membaca untuk menulis, menguji teori-teori di dalam praktek. Yang Charlotte cita-citakan adalah a working philosophy of education, filsafat pendidikan yang bukan cuma bagus dalam teori, tapi betul-betul bisa dipraktekkan dan betul-betul efektif menyingkapkan segenap potensi fisik, intelektual, mental, dan spiritual semua anak. Motto hidup Charlotte adalah: For the children’s sake, semua demi anak-anak.
Picture
Dalam lima belas tahun karirnya sebagai guru di sekolah dasar lalu dosen di kolese pendidikan guru, Charlotte telah menyusun konsep-konsep pendidikannya sendiri, yang kemudian ia terbitkan dalam enam volume: Home Education, Parents and Children, School Education, Ourselves, Formation of Character, dan Towards A Philosophy of Education. Sejak volume pertama terbit – Home Education menguraikan prinsip-prinsip dasar mengasuh dan mendidik anak sampai dengan usia sembilan tahun – pemikiran Charlotte sudah disambut baik oleh masyarakat dan pemerintah Inggris. Mereka ingin ide-ide Charlotte dipraktekkan lebih meluas di seluruh Inggris. Tak lama kemudian, para simpatisan itu bergerak membentuk Parents’ Educational Union (kemudian berubah nama menjadi Parents National Educational Union/PNEU) yang bermisi melaksanakan filsafat dan metode pendidikan Charlotte Mason. 
 
PictureMencerminkan jiwa dari karya Charlotte, dalam anggaran dasar pendiriannya, disebutkan bahwa “Persatuan ini hadir demi [memberi manfaat kepada] para orangtua dan pendidik dari semua kelas [sosial].”
Tahun 1891, Charlotte pindah ke Ambleside untuk mendirikan House of Education, lembaga pendidikan-pelatihan bagi governess (guru privat) dan siapa saja yang berminat bekerja di sektor pendidikan. Satu tahun kemudian, PNEU juga mendirikan sekolah mereka sendiri di Ambleside sebagai wadah para trainee House of Education untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari dari Charlotte Mason. Dengan gaya belajar yang ramah anak: jam belajar singkat, tanpa drill atau hafalan garing, mata pelajaran bervariasi, tidak ada PR, tidak ada sistem ranking, banyak kegiatan eksperimentatif (hands on) serta apresiasi seni dan budaya, jadwal teratur setiap siang sampai sore untuk menjelajah alam dan bermain bebas, ini adalah metode pendidikan yang jauh berbeda dari kebanyakan sekolah masa itu.

Mengingat banyaknya keluarga Inggris yang terlalu miskin untuk membayar governess atau berdomisili di daerah yang belum memiliki sekolah, Charlotte memprakarsai sistem pendidikan rumah dengan model korespondensi. Keluarga-keluarga ini bisa mendaftarkan anak-anak mereka untuk menjadi siswa jarak jauh. PNEU mengirimkan kurikulum, petunjuk proses belajar, dan buku-buku bacaan untuk anak pelajari bersama orangtua di rumah masing-masing. Kemudian di akhir term belajar, PNEU akan mengirimkan berkas evaluasi yang meminta anak menarasikan apa yang mereka pelajari selama term tersebut. Tidak ada nilai, tidak ada peringkat, semua narasi akan dibaca dan diberi catatan komentar, lalu anak bisa melanjutkan ke bahan pelajaran term berikutnya. Materi belajar adalah buku-buku terbaik dari para penulis dan sastrawan paling hebat yang bisa Charlotte temukan, diberikan sesuai tingkat usia para pelajarnya, yang selalu disegarkan dan dimutakhirkan dari term ke term.

Hasil dari sistem pendidikan jarak jauh yang ia susun mengejutkan bahkan Charlotte sendiri! Para siswa koresponden, yang meliputi anak-anak buruh tambang di daerah pelosok, menunjukkan kemampuan luar biasa untuk memusatkan perhatian, kecintaan pada proses belajar, ketajaman berpikir, kegembiraan membaca buku-buku ‘kelas tinggi’, dan pengetahuan yang luas akan berbagai hal. Mereka sanggup menarasikan kembali suatu bacaan hanya dengan sekali dibacakan, bahkan berbulan-bulan setelah bahan itu dibacakan.

Ternyata benar, tulis Charlotte, jiwa semua anak – apa pun ras, strata sosial, dan gendernya – selalu sedang menunggu untuk digugah. Dan sekali tergugah, mereka akan selamanya terbangun untuk mencintai pengetahuan dan kehidupan. Anak-anak yang seumur hidup mencintai proses belajar, yang belajar bukan demi imbalan pujian, gengsi, atau keuntungan material lainnya, melainkan terutama karena kegembiraan dalam belajar itu sendiri, yang tumbuh menjadi pribadi berwawasan luas penuh ide-ide akbar dengan karakter luhur yang berangkat dari tertanamnya kebiasaan-kebiasaan baik, tidakkah itu yang seharusnya dicita-citakan oleh sistem pendidikan? Visi itu hanya bisa digapai jika sistem pendidikan ditegakkan di atas asumsi-asumsi dan konsep-konsep yang benar, lalu dibangun dengan metode yang tepat. “Konsekuensi dari kebenaran itu terlalu besar, kita tidak boleh lalai menimbangnya,” berulang-ulang Charlotte mengingatkan tentang itu.

Dalam volume bukunya yang terakhir, Charlotte merangkum semua pemikiran yang telah ia rumuskan, uji, dan perbaiki selama 30 tahun PNEU berdiri. Dengan puas ia melaporkan hasil metode pendidikannya yang berhasil membangkitkan kecintaan belajar dalam diri puluhan ribu siswanya. Ia telah membuktikan bahwa anak-anak memang terlahir setara dalam hasrat mereka akan pengetahuan, tiada beda antara anak laki-laki dan perempuan, antara anak-anak kaya atau miskin, antara anak-anak cerdas atau ‘terbelakang’. Sekalipun ia juga sadar, teori-teorinya masih perlu diuji coba dalam skala yang lebih luas, ia merasa akhirnya ia berhasil merumuskan sebuah filsafat pendidikan yang membumi, satu model pendidikan yang bisa memuliakan pikiran semua anak tanpa mengabaikan latihan jasmani maupun keterampilan praktis.

Charlotte Mason meninggal dalam tidurnya pada usia 81 tahun, dalam kondisi ingatan yang masih jernih, kemampuan berpikir yang masih tajam, dan hati yang tak pernah berhenti menawarkan kebijaksanaan dan kasih sayang. Ia sangat dicintai dan kepergiannya adalah kehilangan besar bagi banyak orang. Sebuah buku, In Memoriam of Charlotte M. Mason, dipersembahkan oleh para kolega dan muridnya untuk mengenang sesosok pribadi yang mengesankan ini. “Anak-anak dari banyak generasi akan berterima kasih kepada Tuhan untuk Charlotte Mason dan semua karyanya,” tulis salah satu dari mereka.

Berhenti Cengeng!

Film Ron Clark’s Story. Dibintangi oleh Matthew Perry, film produksi tahun 2006 ini diangkat dari kisah nyata seorang guru bernama Ron Clark yang – di dalam film itu – menyebut dirinya sebagai “spesialis pengerek skor ujian  anak-anak bermasalah”.

Dikisahkan Ron Clark sebagai guru yang suka tantangan. Setelah berhasil membuat murid-muridnya di North Carolina menjadi kelas peraih skor tertinggi selama empat tahun berturut-turut, ia merasa perlu mencari gunung kesulitan baru untuk didaki. Pergilah ia ke New York yang terkenal penuh kriminalitas, lalu melamar kerja untuk mengajar kelas paling bermasalah di sebuah sekolah negeri.

Berbagai karakter anak ia jumpai di sana. Ada yang suka mencuri, ada yang suka menjilat, ada yang suka berkelahi, ada yang rendah diri, ada yang suka mengejek, ada yang sama sekali tidak memberikan respons – dan semua pada awalnya menolak kehadirannya. Tetapi Ron pantang menyerah. Sekalipun berkali-kali upayanya dihempaskan oleh penolakan anak-anak itu, ia terus mencoba berbagai macam cara untuk memenangkan hati mereka.

Salah satu upaya Ron yang menarik menurut saya adalah mendatangi murid itu satu per satu ke rumah masing-masing. Ia berkenalan dengan orangtua mereka, meminta orang-orang dewasa itu untuk ikut menyemangati anak-anak dalam belajar. Di situ Ron melihat realitas sebenarnya kehidupan tiap anak. Anak yang acuh tak acuh dengan proses belajar itu ternyata di rumah harus menanggung beban kerja domestik, mengasuh tiga adiknya sementara ibunya yang single parent bekerja seharian. Anak perempuan yang minder itu ternyata punya ayah yang sangat feodal dan patriarkis, yang tidak mengijinkan perempuan bicara di hadapan laki-laki. Anak yang suka berkelahi itu ternyata punya ayah tiri yang gemar memukulinya.

Solusi akhir yang Ron temukan sebenarnya klasik. Anak-anak itu bisa diluluhkan, hanya bisa diluluhkan, akhirnya oleh cinta yang melimpah dan keyakinan tanpa batas terhadap kemampuan mereka. Ron menyiapkan dirinya 24/7 (24 jam sehari selama seminggu) untuk memberikan bantuan kepada siapa saja yang merasa kesulitan memahami pelajaran. Ron tetap mengajar meskipun badannya teler oleh pneumonia, sampai akhirnya pingsan di kelas. Ron ikut bermain lompat tali. Ron terus meyakinkan “Kamu bisa!” meskipun anak-anak itu berkata, “Aku tidak bisa!”. Ron menyediakan pelukan ketika seorang anak diusir dari rumah. Ron memasakkan makan malam bagi seluruh keluarga supaya seorang muridnya bebas dari kewajiban itu dan punya sedikit waktu longgar untuk belajar.

Love will find a way. Cinta selalu menemukan jalan untuk mengubah kehidupan.

Ketika kita mendidik, syarat apa lagi yang lebih penting dari cinta – cinta kepada anak-anak dan cinta kepada privilese kita sendiri sebagai orangtua dan pendidik?

Sistem tidak selalu berpihak kepada cinta. Kenyataannya, sistem sering membuang rasa cinta jauh-jauh. Yang dikejar oleh sistem seringkali hanyalah 3P: prestis, profit, dan pangkat. Seperti ditampilkan dalam sosok kepala sekolah Mr. Turner yang berkata, “Aku tidak peduli bagaimana caranya. Yang penting bagiku adalah skor ujian yang bagus. Di situlah tergantung nasibku dan nasib sekolah ini.”

Kalau memikirkan borok-borok sistem, pasti rasanya kita ingin berkeluh kesah. Kurikulum yang membosankan, fasilitas sekolah yang hancur, kurangnya perhatian pemerintah, minimnya jiwa dedikasi guru, minat baca-tulis anak yang rendah, dan seterusnya. Sayangnya, berkeluh kesah sama sekali tidak mengubah situasi. Berkeluh kesah itu gratis. Semua orang bisa melakukannya. Tapi tak peduli kita telah mencoba bersikap seprihatin apa pun tentang  itu, apa yang kita keluhkan tetap tak berubah. Kalaupun ada yang dihasilkan dari sikap berkeluh kesah, itu adalah kita menjadi merasa semakin tidak berdaya.

Saya teringat kembali pada kata pengantar yang John Holt tulis untuk edisi revisi bukunya How Children Fail. Edisi revisi ini ditulis setelah selama bertahun-tahun ia berkampanye, mendesak para guru dan calon guru untuk terus memperbaiki kinerja mereka. Banyak di antara mereka protes, “Mengapa kau selalu menyalahkan kami untuk semua kesalahan yang terjadi di sekolah? Mengapa kau mencoba membuat kami merasa bersalah?”

John Holt menjawab, “Tidak, aku tidak sedang mencoba membuat kalian merasa bersalah. Aku sendiri tidak pernah menyalahkan diriku atau merasa bersalah ketika murid-muridku tidak berhasil memahami apa yang aku ajarkan, mungkin aku belum tahu bagaimana membuat mereka paham. Tapi aku menuntut diriku untuk bertanggung jawab. ‘Menyalahkan’ dan ‘merasa bersalah’ adalah kata-kata cengeng. Mari kita singkirkan keduanya. Lebih baik kita pakai kata ‘bertanggung jawab’. Kalau kita tidak melihat hasil yang kita harapkan, maka adalah tanggung jawab kita untuk mencari tahu mengapa begitu. Aku adalah seorang guru yang sering gagal, namun aku adalah guru yang tidak puas dengan kegagalan, dan tidak menyerah kepadanya. Adalah tugasku untuk membantu anak jadi paham, dan kalau mereka belum paham, adalah tanggung jawabku untuk mencoba berbagai cara sampai aku menemukan cara-cara yang berhasil mencapai tujuan itu.”

Saya pikir semangat guru seperti Ron Clark dan John Holt patut ditiru. Bukan untuk menyalahkan. Bukan pula untuk membangkitkan rasa bersalah. Keduanya adalah kata-kata cengeng yang hanya membuat kita semakin merasa tak berdaya. Marilah kita singkirkan keduanya dan mulai memakai kata ‘bertanggung jawab’. Kalau kita belum melihat realitas pendidikan di Indonesia ini seperti yang kita harapkan, mengapa tidak mulai mencari tahu mengapa begitu dan terus mencoba sesuatu sampai kita menemukan cara untuk mengubahnya?

Saturday, November 26, 2011

BENCANA WAKTU

BENCANA WAKTU


Waktu adalah pedang
Yang akan memenggal siapapun
Yang menyia - nyiakannya
Sadarkah kita,
Bahwa waktu yang terlupa
Akan MENABUR BENCANA ?

1 hari = 24 jam
SATU TAHUN ?
12 Bulan
52 Minggu
365 Hari
8760 Jam
525600 Menit
31536000 Detik

Manusia meninggal dunia antara usia 60 – 70 tahun.
Sebutlah manusia rata – rata meninggal
di usia ± 65 th

BALIGH adalah start bagi seseorang diperhitungkan amal baik atau buruknya selama hidup di dunia”
Laki-laki Baligh ± 15 tahun
Wanita Baligh ± 12 tahun

MARI KITA HITUNG
Waktu kita tidur ± 8 jam/hari
Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai tidur 18250 hari x 8 jam= 146000 jam=16 tahun, 7 bulan……
di bulatkan jadi 17 tahun

Waktu aktivitas kita di siang hari ± 12 jam
Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai aktivitas = 18250 hari x 12 jam
= 219000 jam = 25 tahun

Aktivitas disiang hari : Ada yang bekerja atau bercinta, ada yang belajar atau mengajar, ada yang sekolah atau kuliah, ada yang makan sambil jalan-jalan, ada pula yang aksi sambil korupsi…
dan masih banyak lagi aktivitas lainnya yang tak pernah bisa disamaratakan antara satu dengan yang lain.

Waktu aktivitas santai atau rilexsasi ± 4 jam
Dalam 50 tahun waktu yang dipakai rileksasi
= 18250 hari x 4 jam
= 73000 jam = 8 tahun

Realisasi rileksasi: biasanya nonton tv sambil minum kopi, ada pula yang belajar mati-matian/bikin contekan habis-habisan buat ujian,
atau mungkin dihabiskan termenung di buai khayalan
17 tahun + 25 tahun + 8 tahun = 50 tahun
Tidur + Ngelembur + Nganggur

Padahal, Bukankah MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK BERIBADAH ?
Ya… BENAR…
SEKOLAH itu IBADAH, KALAU NIATNYA IBADAH
Tapi rata – rata kita sekolah untuk mencari ijazah
Agar kelak mudah mencari nafkah.

BEKERJA juga IBADAH, KALAU NIATNYA IBADAH
Namun seringkali kita bekerja hanya untuk mencari harta benda dunia dan berharap dipuji orang.
Oh mungkin saat sholat yang 5 waktu itu dianggap cukup.
Karena kita pikir, sholat begitu besar pahalanya,
sholat amalan yang dihisab paling pertama,
sholat adalah jalan untuk membuka pintu syurga.

Tapi, mengapa kita harus merasa cukup kalau ibadah kita hanyalah sholat saja ?
Berapa sholat kita dalam 50 tahun?
1x sholat = ± 10 menit
5x sholat = ± 1 jam

Dalam waktu 50 tahun waktu yang terpakai sholat =18250 hari x I jam = 18250 jam = 2 tahun
Kesimpulan:
waktu yang kita manfaatkan dalam 50 tahun di dunia, cuma 2 tahun untuk sholat, itupun belum tentu sholat kita bermakna dan di terima.
Dan sekiranya sholat kita selama 2 tahun diterima, rasanya tidak sebanding dengan perbuatan dosa-dosa kita selama 50 tahun.
Terlalu banyak waktu yang terbuang percuma selama manusia hidup di dunia
dan semuanya itu akan menjadi bencana
Tiada kata terlambat
walaupun waktu bergulir cepat,
isilah dengan sesuatu apa yang bermanfaat !
Terima kasih tulus,
Untuk seseorang yang telah mengirim materi ini pada saya
Semoga menjadi amal jariyah.
Saya hanya mengemasnya, Dalam tampilan yang berbeda.
Yang pasti, Satu hari – satu HIKMAH.
Semoga hidup kita berlimpah berkah.
Amin.

PELAJAR, SEKS DAN GURU

PELAJAR
 
Pelajar adalah pemimpin masa depan. Sebuah negara akan hancur jika tidak ada wanita dan kaum pelajar di negara tersebut hancur. Pelajar merupakan generasi pengganti, karena sebuah generasi akan berganti setiap 20 tahun.

Para pelajar selama ini kita elu-elukan sebagai kader masa depan bangsa. Orang suka dengan sebutan “pelajar hari ini adalah pemimpin hari esok”. Bahkan Soekarno bilang “ beri aku 10 pemuda akan kugoncang dunia” . Artinya kita melihat betapa pentingnya arti pemuda/ pelajar bagi bangsa dan negara.
 
Namun kenyataannya pelajar sering ditempatkan dalam posisi yang sulit. Dimana pada satu sisi menjadi harapan bangsa dan negara banyak tuntutan terhadap mereka, namun disisi lain menjadi objek dan termarjinalkan bahkan seringkali menjadi pusat tuduhan. Akhir-akhir ini kita sering mendengar pelajar narkoba, pelajar seks bebas/free sex, pelajar tawuran, dan lain sebagainya. Di lain pihak, pelajar merasakan tuntutan hidup yang semakin kompleks dan tidak ringan. Intinya di satu sisi mereka berhadapan dengan banyak teori atau idealisme, tetapi disisi lain berhadapan dengan banyak kenyataan yang tidak sesuai dengan idealisme dan nalarnya.

Bagi sebagian pelajar sekolah tidak lebih dari sekedar menyenangkan orang tua. Mereka melihat apa artinya sekolah kalau pekerjaan saja sangat kurang, dan belum tentu begitu lulus dapat kerja, paling-paling menjadi penganggur, bahkan menurut data BPS ada 40 juta orang penganggur di Indonesia, 60 juta orang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Jumlah itu belum lagi yang belum terdata/ tercatat resmi oleh BPS. Mereka juga melihat banyak orang yang hanya dalam sekejap saja dapat menjadi kaya raya. Banyak orang dengan mudahnya menjadi terkenal tanpa harus berjuang bahkan tanpa pendidikan yang tinggi. Hal ini juga sangat berpengaruh dalam cara pandang pelajar menghadapi permasalahan disekitarnya.

Mereka juga merasa kurang kesibukan dalam kehidupan kesehariannya. Tidak semua sekolah mengadakan kegiatan ekstrakurikuler untuk menyalurkan bakat dan minat anak-anak pelajar. Mengaktualisasikan dirinya lewat kegiatan, entah lewat organisasi kepelajaran, mendaki gunung, marathon, atau olahraga yang semuannya bertujuan untuk membuat sibuk dan berkembang, karena nampaknya sekolah terlalu sibuk mempersiapkan siswanya belajar sepanjang waktu demi lulus menghadapi ujian nasional yang semakin tahun semakin tinggi saja standar kelulusannya. Sementara banyak pemberitaan mengenai ‘kenakalan’ pelajar mau tak mau berpengaruh pada kehidupan pelajar yang lain. Pelajar yang mula-mulanya baik dan alim dapat juga tiba-tiba berubah menjadi brutal. Lebih-lebih pelajar yang belum mampu mengendalikan emosinya. mereka berada dalam posisi yang masih labil, mudah terbakar oleh isu-isu.

Para pelajar dalam hal ini, siswa SLTP – SLTA, termasuk dalam kelompok usia remaja. Dan remaja, menurut Prof. Dr. Hj. Zakiyah Dradjat, cendrung mengalami konflik batin ( Psikologis remaja) ; pertama, antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan merdeka; kedua, kebutuhan akan kebebasan dan kebutuhan akan ketergantungan kepada orang tua; ketiga, kebutuhan seks dan ketentuan agama serta nilai-nilai sosial; keempat, konflik nilai, yaitu konflik antara prinsip-prinsip yang dipelajari sejak kecil dengan nilai-nilai yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya; kelima, konflik menghadapi masa depan yang di sebabkan oleh kebutuhan untuk menentukan masa depan, membuat rencana, mencari pekerjaan, jabatan, ketrampilan dan persiapan untuk mencapainya.

SEKS

Undang-undang yang mengatur pornografi dan pornoaksi tidak menyurutkan penyimpangnan seks dan pornografi di negeri ini akibat tidak tegasnya penerapannya. Padahal fenomena kelamin dan seksualitas manusia pada masa kini sangat mempengaruhi individu dan masyarakat yang hidup dalam dunia global. Tentu saja berakibat pada perilaku kehidupan masyakarat khususnya pelajar.

Pornografi dan pornoaksi di negara kita kini telah menjadi penumpang gelap yang merasuki hampir setiap lapisan masyarakat. Dengan mendompleng kebebasan pers, pornografi kini dengan semena-mena selalu berusaha untuk tampil mempengaruhi selera masyarakat dengan cara yang murah, mudah dan rendah (low test). Akibatnya kini permasalahan prilaku seks bebas khususnya dikalangan pelajar sudah pada taraf yang mengkhawatirkan, ditambah lagi dengan pelajar yang kini cepat beradaptasi dengan perubahan kemajuan dan perkembangan teknologi, sehingga rawan penyalahgunaannya seperti HP berkamera dan memiliki fasilitas video digunakan untuk merekam hal-hal yang porno, kemudian tayangan media-media teknologi televisi, musik, internet, majalah, fashion dan peredaran film/ vcd porno yang kian marajalela melanda di berbagai kota sampai kepelosok desa. Pelan tapi pasti menurut Rudi Gunawan dan Seno Joko Suyono (dalam bukunya “Refleksi Kelamin dan Sejarah Pornografi”: 2003) akan dapat menanamkan pengaruh buruk dibawah alam kesadaran dan akhirnya dapat mencuci otak yang bisa saja sewaktu-waktu terjerumus melakukan perbuatan seperti yang ditonton/ dibacanya tersebut.
 
Kejadian dan cerita pelajar hamil sudah tidak asing lagi terdengar di media massa dan berlanjut kepada kasus bunuh diri yang kian melonjak. Lantas pertanyaan yang pantas untuk diajukan dalam hal ini adalah : dimana salahnya? Apakah seluruh permasalahan ditimpakan hanya kepada para pelajar tanpa tahu sebab-sebab yang lain? Apakah memang pantas menuduh para pelajar secara komprehensif dan menyeluruh serta simultan dari seluruh komponen yang terkait sehingga penanganannya lebih terfokus dan tidak menjadikan para pelajar sebagai objek. Lebih jelasnya mengutip dari Nur Indrawati Pari Ketua Konsorsium Masyarakat tolak Pornografi ( MTP ), pengaruh MMSM ( Materi yang menonjolkan seks di media) terhadap Perilaku dan kesehatan reproduksi remaja :

1. Seksual Arousal
Dampak yang timbul ketika orang mengkonsumsi media yang pornografis adalah adanya rangsangan, hal ini dikarenakan tujuan utama dari pornografi adalah to arouse sexually . Ini lah yang kemudian melatar belakangi mengapa seseorang begitu nekat melakukan perzinahan, pemerkosaan, dan lain-lain. Pada awalnya mungkin dampak ini tidak terlalu dirasakan, namun ketika pelaku tersebut meningkatkan konsumsi media pornografi nya , maka hal tersebut bisa menjadi “masalah” yang kemudian melahirkan tindakan act out berupa masturbasi, perzinahan baik dengan sesama jenis atau lain jenis, pemerkosaan yang bisa juga diikuti tindakan kekerasan maupun pembunuhan korban pemerkosaan.
2. Desakralisasi seks
Mengapa kita Pornografi harus dilawan? jawabannya, sederhana : karena pornografi menggunakan media, yang mampu membentuk opini publik yang mendorong desakralisasi seks - sesuatu yang kemudian hari akan akan memakan biaya yang sangat-sangat mahal ( social cost).
Desakralisasi seks merujuk pada penolakan gagasan tentang seks sebagai sesuatu yang suci dan hanya boleh dilakukan dalam ikatan pernikahan. Dengan sendirinya itu berarti seks dapat dilakukan secara bebas, baik antar jenis maupun lain jenis di luar ikatan lembaga pernikahan . Hal tersebut kemudian akan dapat menyebabkan hancurnya lembaga pernikahan. yang di hasilkan oleh kehancuran lembaga pernikahan adalah kondisi dimana terdapat banyak anak yang tumbuh tidak dalam keluaraga yang “lengap’, umumnya tanpa ayah , yang kemudian kita kenal dengan istilah single parenthood . dampak lain yang berpotensi timbul adalah peningkatan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks, terutama AIDS. Dampak lainnya adalah kehamilan remaja, pengguguran kandungan, perkosaan, serta pelacuran. Dalam kasus pemerkosaan, misalnya desakralisasi seks menyebabkan penurunan sensitivitas masyarakat terhadap korban perkosaan.
3. Pencitraan Perempuan sebagai Objek Seks
Pornografi modal utamanya adalah eksploitasi seks. Dan yang kerap menjadi objek dari eksploitasi ini adalah perempuan. Sehinggaketika perempuan begitu sering ditampilkan media massa dalam bentuk pornografi, maka akan turut mempengaruhi citra perempuan, yaitu hanya sebagai objek seks.
Belum lagi jika kita berbicara tentang korban-korban pemerkosaan, kehamilan remaja, pengguguran kandungan sampai pada single parenthood yang semuanya itu adalah perempuan. Sekalipun belum ada study yang signifikan membuktikan bahwa pornografi berakibat pemerkosaan, namun kita bisa melihat data bahwa tidak sedikit pelaku pemerkosaan adalah orang-orang yang sebelumnya menyaksikan adegan pornografi.
4. Kebutuhan untuk menyalurkan
Dengan meningkatnya konsumsi media pornografi tersebut, seseorang akan mengalami addictive-escalazion-Desensitization – act out, kesemuanya merupakan efek yang ditimbulkan ketika materi pornografi di lihat/ dibaca oleh seseorang.
Nah … dengan memahami itu semua, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pornografi sangat berbahaya bagi siapapun, tanpa terkecuali anak-anak dan remaja/ pelajar. Materi yang menonjolkan seks di media (MMSM)bukanlah merupakan pendidikan seks yang benar dan sehat. Karena pendidikan seks pada prinsipnya bertujuan untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai seksualitas. MMSM cenderung mengajarkan corak hubungan seksual yang tidak bertanggung jawab, sehingga potensial mendorong perilaku seks yang menghasilkan kehamilan remaja, kehamilan di luar nikah, atau penyebaran penyakit yang menular melalui hubungan seks, seperti PMS/AIDS. Pemaham yang benar tentang kesehatan reproduksi akan menyebabkan seseorang memiliki rasa tanggung jawab terhadap dirinya.
Kembali kepada pokok persoalan semula, kita juga harus proporsional dalam melihat hal ini. ‘Kenakalan’ pelajar memang saat ini sudah akut dan butuh penanganan yang serius dari berbagai pihak. Pertanyaan selanjutnya kenapa pelajar ‘nakal’ sampai diluar batas yang disebut wajar??
Banyak faktor yang mempengaruhi, untuk sekedar menyebutkan pada lingkungan pertama adalah faktor keluarga. Tidak sedikit pada keluarga baik tradisional, modern maupun pasca “modern” yang kurang memperhatikan anak-anaknya. Mereka (para orangtua) hanya sibuk dengan kegiatan kehidupan dunia. Sibuk bekerja mencari harta, terlalu sibuk dengan waktu bekerja seakan-akan hidupnya diperbudak oleh waktu, diatur oleh kerjaan, bukan mengatur waktu dan mengatur pekerjaan. Sementara waktu untuk perhatian anaknya hampir tidak ada. Harta uang dan fasilitas hidup yang orang sering menyebutnya hedonis dan kehidupan konsumtif. Sementara kasih sayang dari orangtua dan keluarga hampir tidak ada, selanjutnya anak mencari kesenangan dan kepuasan di luaran.
Lingkungan kedua adalah sekolah. Dalam lingkungan sekolah siswa memang disiapkan dan didesain sedemikian rupa bagaimana sekolah dapat memfasillitasi kebutuhan pelajar sebagai mahluk yang perlu berkembang dan beraktualisasi diri. Sekolah mampu memfungsikan dirinya sebagai tempat menuntu ilmu dan mengembangkan pengetahuan disamping berinteraksi dengan kawan-kawannya sebayanya.
Namun untuk dapat menjadikan pelajar yang berprestasi dan menjadikan sekolah sebagai media belajar yang baik hendaknya disediakan perangkat dan sarana yang menunjang bagi para pelajar untuk beraktualisasi diri. Problem klasik, tetapi tak kunjung selesai di dalam dunia pendidikan kita adalah sarana dan prasarana yang kurang memadai, kalupun ada, hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil pelajar dari orang-orang yang berekonomi mapan. Dapat dibayangkan, kelak jika perdagangan bebas dunia diberlakukan, mereka akan memasuki dunia kerja yang kompetitif juga. Anak muda dari Amerika, misalnya dengan skil dan modal yang di miliki berdatangan ke Indonesia, dan yang lainnya datang berbondong-bondong dan memperebutkan pos-pos penting, jabatan-jabatan penting di perusahaan nasional. Lantas bagaimana dengan anak-anak negeri?.

GURU
Awal sebuah kegiatan adalah adanya tujuan. Untuk mencapai tujuan diperlukan waktu. Waktu memerlukan suatu proses dan didalam proses tersebut memerlukan aksi-aksinya nyata. Dalam proses belajar mengajar sangat mempengaruhi hasil apakah sesuai dengan tujuan.
Dalam proses ini kemampuan guru sangat penting untuk dapat memberikan visi bagi pelajar untuk dapat menentukan masa depannya, sehingga pelajar tidak hambar dengan masa depannya. Pelajar tidak dibebani dengan pelajaran-pelajaran yang menjenuhkan dan diperlakukan sebagai orang bodoh dan dituntut menghafal. Ketika sampai disekolah hanya sekedar mencatat, sementara guru hanaya sekedar membaca buku. Hal ini sangat menjenuhkan bagi para pelajar. Untuk dapat melakukan ini memang dibutuhkan kualitas tertentu bagi guru kita.
Guru perlu pemahaman teori-teori dan sekaligus dapat mempraktekkan model-model pendekatan/ pembelajaran baik itu model peadagogiek (yang memberlakukan siswa sebagai orang yang belum tahu) dan perlu bimbingan atau model andragogie (hadap masalah) dimana siswa dianggap sudah tahu dan dapat melakukan dan diberi kebebasan untuk berekspresi.
Tentu saja model-model pembelajaran pendidikan itu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Untuk itu perlu diramu sehingga keduanya bisa dipadukan dijadikan model pengajaran bagi siswa-siswa. Para pelajar bisa diperlakukan sebagai orang dan disekolah tidak hanya mencatat dan menunggu serta mendengarkan guru berbicara di depan siswa, dan siswa mengobrol dibelakang. Kemampuan dan kompetensi guru ini harus terus dimutakhirkan, terlebih adanya indikasi guru sekarang yang kurang layak mengajar alias tidak ada satupun yang lulus tes uji kompetensi.
Disamping itu dalam hal ini pemerintah khususnya departemen pendidikan hendaknya menempatkan dan memberikan peluang dan beban belajar yang lebih realistis kepada pelajar. Terutama kurikulum titipan dari berbagai departemen bisa dikurangi sehingga beban kurikulum bisa lebih ringan dan lebih realistis. Dan diharapkan pendidikan lebih mandiri dari intervensi pihak luar yang pada dasarnya kurang pas untuk menangani dan memasukkan kurikulum didalamnya.
Menyangkut anggaran pendidikan agar diperbanyak dan diperbesar. Namun biaya pendidikan juga perlu dibagi dengan teliti supaya biaya pendidikan tidak banyak pada pembangunan gedung tetapi masuk pada pembangunan manusianya. Bila selama ini biaya pendidikan 80 persen untuk pembangunan gedung.
Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan animo untuk belajar diperlukan penumbuhan minat baca dengan cara mendirikan banyak perpustkaan sebagaimana usulan Mendiknas. Untuk meningkatkan kualitas bangsa ini tidak cukup hanya mencanangkan wajib belajar sembilan tahun tetapi hendaknya juga diikuti dengan seluruh biaya sekolah bebas biaya. Ini sangat penting karena biaya dan ongkos pendidikan kita sangat tinggi. Menyoal keberadaan biaya operasional sekolah (BOS) memang cukup membantu, tetapi pungutan-pungutan masih saja terjadi dengan berbagai alas an, akan tetapi bagaimana mungkin mewajibkan bersekolah sementara ongkos pendidikan sangat tinggi.
Bukankah negara menjamin warganya untuk menempuh pendidikan yang layak. Untuk itu sudah waktunya ongkos pendidikan dibebaskan bukan hanya dari SPP tetapi dari seluruh biaya pendidikan. Sebab SPP hanya sepuluh prosen dari ongkos-ongkos pendidikan. Diantara persoalan bangsa ini adalah SDM para pengajarnya disamping tidak memiliki skil yang cukup juga tingkat kesejahteraan guru yang mines untuk dapat disebut layak. Bagaimana pada masa mendepan para guru dapat dibangun fisi dan kepribadiannya, sehingga yang mengajar dan melakukan pengabdian yang katanya tanpa tanda jasa itu benar-benar harum dan bukan sebagai tempat hujatan serta tempat kambing hitam bagi limpahan kesalahan bagi kita semua.
Pada kalangan ormas pelajar, yang selama ini kurang gregetnya untuk memberikan muatan bagi para pelajar untuk dapat beraktifitas dan mengaktualisasikan. Dimana ormas pelajar/pemuda pada sibuk dengan aktifitas intern dan tidak memberikan layanan yang layak bagi para pelajar, sehingga bisa dikatakan ormas pelajar sibuk dengan urusan intern organisasi dan teralinasi dari basis masanya. Ormas pelajar hendaknya mampu memberikan layanan dan tempat beraktifitas bagi para pelajar. Bagaimana ormas pelajar mampu untuk menjadi sentral aktifitas untuk lingkungan dan mengembangkan kepribadiannya.
Semoga permasalahan pelajar ini mendapat perhatian lebih dari kita semua, dan bila seluruh komponen ini dapat saling menunjang, diharapkan mampu merobah kondisi kritis kondisi bangsa ini. Untuk itulah dibutuhkan kemauan baik dan komitmen serta aksi nyata semua pihak. Yang jelas bagaimanapun wajah kaum muda hari ini adalah cermin dari kondisi masyarakat yang akan datang semoga kaum pelajar tetap eksis posisinya sebagai lapis generasi pewaris dan pelanjut kehidupan masyarakat dan bangsa.

Saturday, July 9, 2011

INDAHNYA MALAM PERTAMA KITA













Sebagai bahan renungan...

Satu hal sebagai bahan renungan Kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa

Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka....
Tak Ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak Ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok Dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang - lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok Kita....
Itulah jasad Kita waktu itu

Setelah dimandikan.. .,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ...jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju Kita...
Bagian kepala..,badan. .., Dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah Kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan. .yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan

Dan akhirnya.... . Tiba masa pengantin..
Menunggu Dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap Dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya Kita tak pernah galau ketakutan... .
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...

Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya Kita berharap menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi ....sudah pantaskah sikap kita selama ini...
Untuk disebut sebagai ahli syurga

Baca jika anda ada masa /waktu untuk ALLAH.
Bacalah hingga habis.
Saya hampir membuang email ini namun saya telah diberi anugerah
untuk membaca terus hingga ke akhir.

ALLAH, bila saya membaca e-mail ini, saya pikir saya tidak ada waktu
untuk ini....
Lebih lebih lagi diwaktu kerja. Kemudian saya tersadar bahwa
pemikiran semacam inilah yang ....
Sebenarnya, menimbulkan pelbagai masalah di dunia ini.

Kita coba menyimpan ALLAH didalam MASJID pada hari Jum'at......
Mungkin malam JUM'AT?
Dan sewaktu solat MAGRIB SAJA?
Kita suka ALLAH pada masa kita sakit....
Dan sudah pasti waktu ada kematian...

Walau bagaimanapun kita tidak ada waktu atau ruang untuk ALLAH waktu
bekerja atau bermain?
Karena...
Kita merasakan diwaktu itu kita mampu dan sewajarnya mengurus
sendiri tanpa bergantung padaNYA.

Semoga ALLAH mengampuni aku karena menyangka... ...
Bahwa nun di sana masih ada tempat dan waktu dimana ALLAH bukan lah
yang paling utama dalam hidup ku (nauzubillah)

Kita sepatutnya senantiasa mengenang akan segala yang telah DIA
berikan kepada kita.
DIA telah memberikan segala-galanya kepada kita sebelum kita
meminta.

ALLAH
Dia adalah sumber kewujudanku dan Penyelamatku
IA lah yang mengerakkan ku setiap detik dan hari.
TanpaNYA aku adalah AMPAS yang tak berguna.

Susah vs. Senang
Kenapa susah sekali menyampaikan kebenaran?

Kenapa mengantuk dalam MASJID tetapi ketika selesai ceramah kita
segar kembali?
Kenapa mudah sekali membuang e-mail agama tetapi kita bangga
mem "forward" kan email yang tak senonoh?
Hadiah yang paling istimewa yang pernah kita terima.
Solat adalah yang terbaik.... Tidak perlu bayaran , tetapi ganjaran
lumayan.
Notes: Tidak kah lucu betapa mudahnya bagi manusia TIDAK Beriman
PADA ALLAH
setelah itu heran kenapakah dunia ini menjadi neraka bagi mereka.

Tidakkah lucu bila seseorang berkata "AKU BERIMAN PADA ALLAH" TETAPI
SENTIASA MENGIKUT SYAITAN. (who, by the way, also "believes" in
ALLAH ).

Tidakkah lucu bagaimana anda mampu mengirim ribuan email lawak yang
akhirnya tersebar bagai api yang tidak terkendali., tetapi bila anda
mengirim email mengenai ISLAM, sering orang berpikir 10 kali untuk
berkongsi?

Tidakkah mengherankan bagaimana bila anda mulai mengirim pesan ini
anda tidak akan mengirim kepada semua rekan anda karena memikirkan
apa tanggapan mereka terhadap anda atau anda tak pasti apakah mereka
suka atau tidak?.

Tidakkah mengherankan bagaimana anda merasa risau akan tanggapan
orang kepada saya lebih dari tanggapan ALLAH terhadap anda.

Aku berDOA , untuk semua yang mengirim pesan ini kepada semua rekan
mereka di rahmati ALLAH.