'/>

Rabu, 02 Maret 2011

Mengapa Menangkap Ayam Harus Dari Arah Samping

Mata di samping memang bisa memberi ruang pandang yang lebih luas. Kuda, misalnya, memiliki sudut pandang sekitar 150 derajat, masih di bawah kelinci memang, sehingga untuk melihat tubuhnya kuda masih harus menoleh. Akan tetapi, sudut pandang itu lebih lebar dibandingkan milik manusia, yang hanya 120 derajat.

Walapun begitu, mata samping kalau tidak ditunjang dengan koordinasi penglihatan yang lengkap, ya sia-sia belaka. Sebabnya, mata bertugas memantau dan mengirim data ke otak.


Jika kedua mata tidak bisa bekerja sama dengan baik, terpaksa otak mengolah data kiriman mata secara terpisah. Inilah yang menimpa ayam. Meski matanya di samping, karena koordinasi penglihatan jelek, ayam hanya bisa memanfaatkan satu matanya sekali pandang. Jadi jika ingin menangkap ayam, tangkaplah dari salah satu sisinya.

Pernah mencoba menangkap kelinci? Dengan mengendap-endap kita mengikuti gerak-gerik kelinci. Anehnya dia tahu kalau diikuti. Dengan sigap langsung ia lari menjauh.

Apakah kelinci punya radar di punggungnya? Ternyata, berdasarkan penelitian, satu mata kelinci memiliki sudut pandang sekitar 180 derajat lebih sedikit. Berarti dengan kedua matanya ia bisa melihat sekeliling tempat ia berada tanpa berpaling.

Lalu, bagaimana harus menerobos radar mata seperti itu? Ternyata mudah saja. Kita harus meniru lalat yang bisa hinggap di hidung kelinci tanpa ketahuan. Kuncinya justru mengendap-endap dari depan. Aneh, ya?

Begitulah, meski bisa melihat sekeliling, tapi karena letak mata berada di sisi kiri dan kanan kepalanya, kelinci malah tidak bisa melihat hidungnya. Melalui jalur hidung inilah lalat bisa berkelit dari pandangan mata si kelinci.

Walaupun kedua mata ayam tidak bisa bekerja sma dengan baik, tetapi hewan ini mampu menglahkan manusia menyangkut mslah warna. Penglihatan warna yang super ini datang dari mata yang terorganisir dengan baik.

Para peneliti memetakan lima tipe reseptor cahaya di mata ayam. Mereka menemukan reseptor tersebut berada pada jalinan mosaic yang memaksimalkan kemampuan ayam untuk melihat berbagai macam warna di setiap bagian retina. Struktur penerima cahaya tersebut berada di belakang mata ayam.

"Berdasarkan analisis, unggas jelas lebih unggul di atas kita (manusia) dalam penglihatan warna," ujar peneliti Washington University School of Medicine Dr Joseph C Corbo, dari di St Louis Mo, seperti dikutip livescience.com, Kamis (18/2/2010). "Reseptor penerima warna pada retina ayam melebihi dari retina lainnya, terutama yang terdapat pada hewan mamalia," tambahnya.

Dia menjelaskan, retina manusia memiliki kerucut kepekaan terhadap panjang gelombang warna merah, biru dan hijau. Retina unggas juga memiliki kerucut terhadap panjang gelombang sinar violet, termasuk sinar ultraviolet, dan receptor khusus yang memiliki kerucut ganda. “Kami meyakini kemampuan itu dapat membantu mereka mendeteksi gerakan," imbuh Corbo.

Corbo berspekulasi, sensitifitas tambahan pada warna dapat membantu unggas untuk menemukan pasangannya, yang sering melibatkan warna-warni bulu burung, atau ketika mencari makanan yang berwarna.

Penelitian lebih lanjut akan melihat bagaimana mata tersebut nantinya terorganisir. Corbo mengatakan, penglihatan seperti itu nantinya dapat membantu para ilmuwan untuk menggunakan sel induk dan tehnik lainnya, untuk menyembuhkan sekira 200 kelainan genetik yang dapat menyebabkan berbagai bentuk kebutaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar