'/>

Rabu, 27 April 2011

Guru dan Siswa yang Malas Membaca, Malas Belajar, dan Malas Menulis

Berbicara tanpa makna, rugi sendiri dan merugikan yang mendengar. Menulis tanpa makna, tak merugikan siapun.
Berbicara sendiri laksana orang tidak waras. Menulis sendiri malah menyehatkan dan membuat pikiran semakin waras.
Pak/bu guru, siswaku, temenku, apa yang sudah anda tulis hari ini?

Salut dengan teman yang tulisannya sudah ribuan, tiap hari menulis 2-3 tulisan bahkan lebih. Ternyata dia orang sibuk, bertubuh tambun. Katanya orang tambun itu susah gerak, tapi dia malah dinamis dan otaknya jauh lebih dinamis lagi. Hobinya menulis dan baca buku. Disekitar kita lebih banyak lagi yang punya hobi cuma membaca, menulis tidak pernah/jarang. Dikemanakan yah intisari hasil bacaannya selama ini? Ups itu termasuk saya loh.

Ada guru yang rajin baca buku, ada yang cuma rajin baca koran, ada yang hanya rajin baca buku-buku pelajaran. Tapi yang unik, ada guru yang tidak hobi baca apa-apa. Ada guru yang rajin menulis, ada guru yang menulis sesekali saja, ada guru yang menulis di papan tulis ketika mengajar tok, ada juga guru yang tak pernah menulis kecuali membuat garis, bulatan, dan kotak sambil mengoceh di depan kelas.

Dunia guru adalah dunia belajar, beruntunglah kita yang jadi guru. Tiada hari tanpa belajar. Itu idealnya. Nyatanya ada guru yang tidak pernah belajar, hanya mengajar saja. Kedengarannya hebat banget itu guru. Anehnya gajinya lancar saja. Koh apa ada kaitan antara guru rajin belajar dengan gaji?! Memang gak ada kaitannya antara guru A, B, C,…Z antara kerajinannya belajar dengan gaji, asal pegawai negeri dibayar sesuai dengan pangkat dan golongannya. Bolos atau rajin juga dibayar penuh. Enak tenan… dan edan tenan :) ) Pantas aja pada berjubel mau jadi guru berstatus pns.

Dunia guru adalah dunia baca tulis, dunianya membaca dan dunianya menulis…?! Guru mestinya rajin, membaca, rajin menulis. Membaca dan menulis apa saja, lebih-lebih yang ada kaitannya dengan tugasnya Guru dipaksa lewat aturan wajib membuat karya tulis untuk naik pangkat pun sepertinya gak mempan. Kalau mempanpun sepertinya terpaksa. Tak terbiasa menulis, begitu menulis yang dicari jiplakan. Halah! Mungkin yang ada dalam pikirannya yang penting bisa naik pangkat. Naiki tuh pangkat!

Setali tiga uang dengan guru. Siswa adalah dunia belajar, tapi kebanyakan siswa ada saja yang malas belajar. Apakah ini ada kaitannya dengan para gurunya yang malas belajar. Saran dan nasehatnya tidak digubris. Pemberi nasehat sepertinya perlu introspeksi deh kalau begitu. Kalau siswa ada bimbingan konseling atau bimbingan belajar, maka guru mesti juga rutin mengikuti bimbingan mengajar. Tapi apa ada?!

Mungkin karena semua belum memiliki niat yang benar untuk berangkat dan memulai tugasnya. Baik siswa maupun guru semestinya selalu memperbaiki niat sebelum meninggalkan rumah menuju sekolah. Memperbaiki niat yang sebelumnya hanya rutinitas tanpa isi. Berniat, melangkah, berbicara, dan mendengar dengan sesadar-sadarnya untuk menjalankan tugasnya. Yakini itu akan memberikan hasil yang luar biasa. Ayo perbaiki diri bersama. Tiada kata terlambat.

Wassalam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar