'/>

Rabu, 27 April 2011

Pengawas Ujian dan Pembiaran Kecurangan Ujian

Ketika saya selesai mengoreksi jawaban siswa ujian sekolah (US) pelajaran IPA. Banyak keanehan pada jawaban tersebut, siswa salah dan seragam. Seperti tidak diawasi saja saat ujian tersebut. Padahal tiap ruang diawasi dua orang guru. Sebenarnya tugas mengawasi atau cuma membagi soal terus menunggu soal dikumpulkan? Kalau jawabannya ya, ini parah, tidak amanah sama sekali. Mungkinkah di sekolah lain juga begitu kondisinya?
Bagaimana kita yang mengoreksi (tidak berada dalam ruang kelas sat ujian) bisa menduga siswa melakukan tindak curang? Ini tidak sulit, lakukan saja analisis jawaban, input jawaban siswa menggunakan aplikasi spreadsheet (excel dan sejenisnya). Jjika jawaban siswa kesalahannya seragam pada model soal multiple choice maka dapat disimpulkan itu jelas contekan. Bagaimana kita tahu guru pengawas tidak melakukan tugas dengan benar? Yah dari hasil input tadi itu, salah tapi seragam.
Ujian dilakukan bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa, dan harus bisa menunjukkan kondisi nyata setiap siswa. Oleh karena itu dijaga dan diperlukan pengawas ujian agar siswa tidak melakukan tindak kecurangan. Tapi yang terjadi banyak pengawas yang tidak mau awas, hanya menjalankan tugas tapi tak mau memperhatikan apakah siswa saling contek atau tidak.
Pembiaran siswa yang bekerja sama menjawab soal selama ujian berlangsung jelas tidak benar dan tidak patut dilakukan apapun alasannya. Sepertinya semakin banyak guru yang bersikap seperti itu. Kita sebagai guru dididik  untuk menanamkan nilai kejujuran, tapi mengapa malah terjadi pembiaran. Separah itukah ketakperdulian kita di dunia pendidikan ini padahal kita adalah guru?
Anehnya di setiap sekolah ada guru dengan julukan guru killer. Julukan guru killer semakin melekat ketika guru tersebut “terlalu” ketat saat mengawasai setiap ujian yang jadi tugasnya, sementara guru yang lain tidak begitu dalam pengawasan bahkan ada yang sengaja “memberi angin”. Lebih parah lagi ketika ujian (biasanya UN) ada yang rela membagi jawaban ke siswa. Ada suatu yang janggal pada sikap guru, pada saat ulangan harian diawasi sendiri siswa dengan ketat, tetapi saat ujian nasional/ujian sekolah guru seperti itu malah membantu menyebarkan jawabannya. Saya berpikir ini ujian atau bukan sih…
Saya mungkin ketinggalan jaman kali yah, bahwa menyontek itu sekarang  sudah dilazimkan. Pantas saja soal UN tahun ini dibuat 5 paket. Menurut saya itu tidak cukup, mestinya 20 paket (karena tiap ruang maksimal 20 siswa). Mungkin juga hal itu dikarenakan pengawas ujian sudah tak banyak yang amanah.  Dengan banyaknya variasi soal ini akan memaksa siswa berjuang sungguh untuk belajar lebih baik, dan mungkin akan mengurangi kecurangan UN walaupun pengawas sudah enggan awas dalam mengawas.
Suatu ketika ada temen saya jadi pengawas ujian di sekolah lain, karena dia tidak mau diajak kerja sama dalam memberi jawaban ke siswa saat UN, maka ia dimusuhi dan dilaporkan oleh kepala sekolah tempat mengawas ke atasannya. Laporannya karena yang bersangkutan tidak membantu “kelancaran” dan meningkatkan lulusan di sekolah tersebut. Sepertinya sudah saatnya dicuci otak kepala sekolah yang seperti itu.
Suatu ketika juga ada pengarahan menjelang UN dari suatu sekolah oleh kepala sekolah agar para pengawas silang dapat membantu ‘kelancaran’ selama ujian, karena itu ibadah juga alasannya. Halah… Ibadah kok dengan cara membiarkan siswa curang atau malah gurunya yang menjawabkan soal ujian. Mau dibawa ke mana pendidikan di negeri ini? Ini sering terjadi di sekolah yang “terpinggirkan” di mana memang sudah mendapat petunjuk (bahkan dari pejabat diknas/pendis) agar mengatur “bagaimana baiknya” agar siswa dapat lulus. Terjemahannya yah seperti tadi itu.
Mau jadi guru yang baik janganlah dengan cara membiarkan siswa nyontek saat ujian. Apakah dengan begitu kita akan menolong siswa? Sebaiknya dipikirkan kembali deh. Itu jelas tidak patut dilakukan seorang guru yang semestinya menjaga nilai kejujuran. Kalau tidak, ya pantas saja siswa kita tidak bisa bersaing secara global.
Kadang di setiap sekolah memang ada saja guru yang ingin jadi pahlawan bagi siswa, membantu kasak-kusuk agar siswa mendapatkan jawaban. Dan pengawas luar pun akan manut karena sudah di-briefing dan karena biasanya pada akhirnya para pengawas akan dapat “amplop” yang tak seberapa, dan dijamu dengan acara makan-makan dengan hidangan super duper lezat. Jadi mental suap sudah diajarkan sejak dini di sekolah.
Hulu dari persoalan ujian adalah ketidakberesan  pada proses pembelajaran, dan muaranya adalah masalah kelulusan ujian nasional. Dicemari lagi saat ujian dengan adanya ‘tim sukses’ dan pengawasan yang justru mengijinkan kecurangan terjadi,  serta pembiaran pencontekan dan saling contek. Keremukan pendidikan kita semakin nyata di depan mata kalau sudah begitu.
Masih adakah harapan kalau hal seperti itu berlanjut dan semakin lazim?!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar