'/>

Rabu, 27 April 2011

Tentakel Pencengkram Dunia Pendidikan

Metamorfosa KKN di dunia pendidikan telah terjadi. KKN yang paling mengemuka hanya K Korupsi, sementara K Kolusi dan N Nepotis sudah semakin samar nyaris menjadi kewajaran. Lembaga yang ada hanyalah KPK K Korupsi, bukan kolusi, apalagi nepotis. Kolusi dan nepotis untuk bagi-bagi proyek itu lazim dan biasa tujuannya tidak lain adalah mencari keuntungan pribadi atau kelompok. Mau dapat gedung sekolah baru seorang kepala sekolah harus berkolusi juga, apakah harus demikian?
Kepala sekolah/madrasah, sering kali mendapat tawaran gedung baru, meskipun tak perlu, asal mau beri sekian persen dari nilai proyek bolehlah ambil tuh gedung untuk sekolahnya. Sementara ada sekolah yang benar-benar memerlukan sampai-sampai ruang laboratorium IPA & perpusatakaan dipakai sebagai ruang belajar, aula jadi ruang guru. Tidak mau kolusi jangan harap dapat jatah gedung. Begitu juga pengadaan sarana lain. Ah itu hanya segelintir oknum…
Jangankan soal pengadaan gedung atau sarana sekolah yang jelas ada uangnya, pengadaan pegawai saja mereka bisa memainkannya. Hehehe dibagian pemerintah mana sih yang tidak bisa dimainkan?! Ada sekolah yang sejak berdiri hingga belasan tahun tak punya guru: penjaskes, kesenian, sejarah, antropologi, sosiologi, BK, TIK tidak diberi-beri jatah, tapi guru lain berlimpah. Apa ini juga bagian dari kolusi atau nepotis itu? Apa memang diskenario? Apakah pelajaran-pelajaran tadi tidak penting?
Soal penentuan besaran anggaran saja juga tercium aroma kolusi. Tidak saja di gedung wakil kita, di gedung-gedung pelayan kita, pelayan publik saja, juga semerbak setiap penetapan besaran anggaran, DIPA/DAK/DAU. Aneh memang negeri ini, ketika awal jadi CPNS ditatar, dicekok-i soal pemerintahan yang bersih, tidak boleh ini dan itu, soal disiplin dan lain-lain, namun begitu kerja sungguhan semua itu ‘boleh’ dan kalau perlu ‘harus’ dilanggar. Ngawur banget yah saya menulisnya, lebay?!
Jika ada yang bilang, sampean bisa ngomong begitu karena sampean bukan mereka. Benarlah saya adalah saya tidak mau jadi mereka. Kalau saya jadi mereka bakal runyam tuh. Mengapa? Karena kalau kita jadi mereka kita harus melebur mengikuti irama mereka-mereka yang lain. Kalau tidak mau melebur kita bakal dipenjarakan, dikucilkan. Sesungguhnya mau jadi seperti mereka itu soal pilihan. Jadi biarlah saya jadi diri saya.
Ke depan memang sudah dapat diprediksi, Indonesia bakal semakin korup, kolusi dan nepotisnya semakin kental di mana-mana. Guru pun ada saja yang mengkorupsi waktu. Saat mengajar dia tidak mengajar penuh. Saat pemberian nilai dia manipulasi, bahkan ada yang tak melihat hasil kerja siswa tapi bisa membuatkan nilai. Penjualan buku pun berkolusi dengan penerbit dengan harga jual yang hampir 2x lipat harga terima. UN pun ada yang membantu siswa dengan memberikan jawaban soal.
Indonesia dengan wajah eksotik KKN-nya sungguh indah. Kita dibuat terpesona dan terperangah sambil mengurut dada. Sejak orde lama, orde baru, dan semakin menggila pasca reformasi, penataan bentuk yang semakin buruk. Coreng moreng wajah negeri yang memilukan, dan membuat kita yang waras semakin miris. Bagaimana jadinya generasi mendatang dengan kondisi rapuh di semua lini.
Para penegak hukum pun tak sanggup menerima hajaran tentakel KKN yang menggurita dengan tentakel lunak namun kuat itu. Sama juga di dunia pendidikan inspeksi-inspeksi yang dilakukan pengawas sekolah atau lembaga pengawasan institusi, luluh lantak hanya dengan sebuah amplop dan traktiran makan mewah, dan layanan prima lainnya hingga mereka tak melakukan tugasnya. Yang penting TST, tau sama tau dan bikin laporan ABS, asal bos senang selesai urusan.
Pembiaran juga termasuk kolusi dan nepotis. Ada guru malas ngajar, dan tidak mengerjakan tugasnya dengan benar juga sering dilakukan pembiaran oleh kepala sekolahnya. Mestinya dia tahu apa yang dilakukan guru untuk mengajar di sekolah yang ia pimpin. Sebab itu akan jadi jaminan kepemimpinannya, termasuk kesuksesan proses pembelajaran di sekolahnya. Inilah tanggung jawab yang diamanahkan pada dirinya. Gak sanggup mundur saja.
Tak perduli itu sekolah umum atau agama, KKN merebak tak terkendali. Pejabat rendah-tinggi pun disusupi. Mau lari ke mana? Iman-pun sering diparsialkan. Saat menghadap Kholiq ia mengimaninya sejadinya. Begitu tidak menghadapnya semua bisa diatur. Pendidikan pun mengajarkan itu. Guru saat UN rajin gerilya membagi jawaban padahal saat ulangan harian ia sadis banget ketika melihat siswanya nyontek, so what gitu loh?!
Jadi kalau tetap begini-begini saja pendidikan di negeri ini tak akan kunjung membaik, tak kunjung menghasilkan manusia-manusia yang bersih dan anti KKN. Revolusi pendidikan menjadi penting dan perlu disegerakan. Revolusi itu bisa dimulai dari mental, mental para pendidik dan pengambil kebijakan. Semangatnya adalah untuk memperbaiki keadaan. Kesiapan mental jauh lebih penting dalam revolusi dunia pendidikan.
Wassalam,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar