'/>

Selasa, 10 Mei 2011

Guru Itu Téko?

Andai saya dan semua rekan saya mau berkaca sambil menanyakan sudahkah saya punya bekal yang cukup menjadi seorang guru yang benar, maka pendidikan di negeri ini pasti akan membaik. Berikut analogi tanpa dasar tentang guru, siswa, dan ilmu.
Ada orang mengatakan guru itu seperti teko, murid itu seperti botol dan ilmu itu seperti air. Tiga buah analogi yang saling terkait erat. Kalau teko gak pernah diisi air bagaimana ia bisa menuangi botol. Apakah yang seperti itu masih berlaku untuk guru dan siswa jaman sekarang?
Bukannya guru sekarang hanya bertindak sebagai fasilitator? Kalau sebagai fasilitator guru harus tahu cara mengarahkan muka botol saja agar mendapat banyak kucuran air dari sumber alami, tidak harus dari teko. Guru sebagai fasilitator, apakah ia cukup menunjukkan letak mata air (ilmu) kepada siswa? Mungkin botol perlu juga diajari bagaimana cara memasukkan air ke dalam dirinya secara efektif, bagaimana menggunakan air secara efisien, termasuk pula mengajari bagaimana mencari sumber mata air yang baru. Saya sendiri kurang setuju kalau ilmu itu laksana air, sebab apakah sumber air bisa habis, padahal jumlah air itu tidak akan habis?
Andai pun siswa diibaratkan sebagai botol, maka guru tidak boleh menganggap botol itu kosong (tanpa isi). Ini sesuai teori multi kecerdasan, setiap botol sesungguhnya sudah punya isi dari sononya. Guru tidak patut merusak isi sebelumnya. Tugas guru adalah mengarahkan botol itu ke sumber mata air yang sesuai dengan isi dalam botol sebelum ia datang pada sang guru. Apakah patut seorang guru mencampuradukan isi(ilmu) botol (murid) dengan isi-isi lain, dapatkah ia mempertanggungjawabkannya? Kalau guru berusaha mencuci botol dan bersusah payah mengisinya sendiri maka itu jauh lebih sulit.
Semua itu tergantung kemampuan yang dimiliki sang botol, kalau kemampuannya tinggi cukup hanya mengarahkan, tapi kalau kemampuannya menengah atau di bawah maka tugas teko adalah memberi dan membimbing. Bagaimana kita bisa mengarahkan sumber air kalau air saja banyak yang tidak tahu?
Apa menjadi kebiasaan umum yang terjadi selama ini pada pendidikan kita? Saya tidak meng-generalisir keadaan, setidaknya saya melihat diri saya dan rekan yang ada di wilayah saya, meskipun itu ngawur. Teko-teko itu banyak yang mulai berkurang isinya, ada yang menguap karena perubahan tekanan dan temperatur, ada yang tumpah seiring berjalannya waktu. Teko-teko itu isinya mulai basi karena tidak pernah diperbaharui. Saat ini sumber mata air yang bisa mengisi teko sangat berlimpah tinggal mau tidak teko-teko itu mengisi dirinya, memperbaharui isinya? Tapi begitulah kondisinya. Kalau pemilik teko tidak mampu menyuasanakan teko untuk selalu terisi dengan baik, maka dari diri tekolah semestinya yang harus perduli dan sadar diri. Sadar diri bahwa tugasnya adalah membimbing, membfasilitasi botol agar terisi dengan baik dan benar.
Kebanyakan teko mengisi botol seadanya saja, akibatnya banyak air yang tidak bisa masuk ke dalam botol. Teko membiarkan begitu saja botol kosong berdiam diri, karena sang teko juga tidak tahu dan tidak terbiasa mengisi dirinya sendiri. Sangat disayangkan potensi botol untuk bisa diisi dengan air berkhasiat sesaui potensi yang dimilikinya tak terarahkan dengan baik, apalagi mengisinya. Banyak teko yang tidak tahu bagaimana cara menuangkan isi ke dalam botol. Yang lebih parah banyak teko yang isinya basi, dan tak bermutu. Akibatnya kita bisa merasakan apa yang terjadi dengan dunia pendidikan di negeri ini.
Yang menjadi alasan mengapa teko membiarkan diri tidak mau mengisi dirinya, membiarkan isinya basi tidak mengganti isi yang baru, semua itu alasannya dengan kondisi begitu saja dia tetap aman dengan penghasilan tetap dan mendapatkan tunjangan pensiun. Toh sistem tidak ada yang mengharuskan diri teko agar selalu berisi dan isinya tidak basi, Siapa yang perduli, tak ada. Gaji lancar dan kepangkatan lancar naik terus, tanpa terkurangi atau terdegrasi. Itulah potret keadaan beberapa teko-teko Indonesia. Weleh-weleh.
Saya termasuk yang memuja internet sebagai sumber air (ilmu) yang melimpah-rua. Bisa diakses tanpa batas waktu dan ruang. Yang membatasinya hanyalah bandwidth internet yang kadang sering tersendat-sendat. Guru dan siswa bisa saja memanfaatkan fasilitas yang kian murah dan terjangkau dipelosok negeri. Di sanalah sumber air mengalir deras siap ditangguk untuk dimasukkan dalam botol-botol bersih. Tuntutannya adalah bagaimana teko bisa menunjukkan kepada botol hanya untuk mengambil air yang bebas cemaran, agar tidak meracuni diri.
Wahai para teko mari belajar menuangkan dan mengarahkan botol agar bisa terisi dengan air yang cukup dan bersih.

Wassalam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar