'/>

Kamis, 05 Mei 2011

Kepada Siswaku yang Akan Pergi

Siswa kebanyakan hanya sadar akan pentingnya suatu ilmu ketika ia sedang tidak lagi bersekolah. Menghargai guru ketika ia dipenghujung waktu jenjang persekolahan. Selama bersekolah ia seolah tak menyadari bahwa ilmu dan guru adalah hal yang patut mendapat perhatiannya bukan yang lain. Salah siapa siswa seperti itu? Kedewasaan dalam berpikir akan membuat siswa sadar akan tugas dan kewajibannya. Tapi mungkinkah kedewasaan siswa dipaksakan? Jika mereka dikatakan tidak dewasa mereka tidak akan terima, tapi jika ditunjukkan akan sifat kekanak-kanakan maka ia akan malu. Anehnya mereka tidak juga sadar memperbaiki diri. Kelemahan yang disadarinya tak segera ia perbaiki berakibat penyesalan saat perpisahan.
Penyesalan memang datangnya setelah keterlanjuran. Penyesalan seharusnya menjadikan alasan untuk mencapai kedewasaan diri. Hari ini tersadar, jangan lagi kau lupakan bahwa mempelajari ilmu dan penghargaan kepada guru merupakan kewajiban bagi setiap pembelajar. Ilmu apa saja itu, ilmu tentang kehidupan. Guru apapun yang mengajari soal kehidupan. Setiap orang yang mau memberikan pembelajaran bagi diri adalah seorang guru. Guru yang mengajarkan arti kehidupan dan bagaimana menjalani hidup adalah guru yang sesungguhnya. Bukan seorang atau beberapa orang guru saja. Tak perlu pembedaan dalam penghormatan dan penghargaan.
Jika siswa berharap mendapatkan ilmu yang barokah, maka sepantasnya siswa harus menghormati semua guru. Bukan berarti guru itu gila hormat tetapi itulah cara untuk mendapatkan manfaat ilmu yang dipelajari. Seorang guru adalah mereka yang memberikan petunjuk jalan kehidupan yang benar, meluruskan ketika kau bengkok dan kau rela akan tindakannya demi kebaikanmu.
Peran orang tua dalam menyadarkan anak sebagai siswa akan pentingnya penghargaan kepada guru sangat menentukan bagaimana seorang anak akan berhasil dalam pendidikannya. Bagi orang tua hal itu adalah kewajiban jika mengharap keberhasilan anaknya dalam belajar. Bila kita perhatikan siswa yang sukses mereka pasti memiliki empati kepada guru. Tidakkah siswa lain ingin sukses juga?!
Selesai pergumulan dengan ujian akhir kini siswa sibuk dengan acara pelepasan atau apalah namanya. Hikmah dibalik itu apa? Apakah hanya seremoni yang kemudian menderaikan air mata haru? Tidakkah itu adalah awalan menatap masa depan yang semakin nyata? Inilah sebuah akhir untuk memulai, memulai kehidupan, kedewasaan, dan kematangan diri. Momentum pelepasan siswa di kelas akhir sesungguhnya sarat pesan. Mau jadi apa kau nanti, ini saatnya penentuan penggalan belajar untuk kehidupan. Keangkuhan kekanak-kanakan mestinya kau lepaskan. Kepongahan akan kehebatan semu-mu harusnya ketanggalkan di saat ini. Jadilah dirimu yang bisa terus belajar ttg kehidupan dengan sekepal modal dari sekolah.
Keberhasilan menyelesaikan studi di jenjang SMK adalah awalan penggalan kehidupan yang sesungguhnya. Sadari itu. Kekerasan perjuangan pendewasaan menantimu hingga kau sanggup menyesuaikan diri, mengadaptasi diri dengan lingkungan. Jangan lupa berdoa, ingat kelulusanmu belum kau tahu. Semoga cahaya kebenaran selalu menerangi perjuanganmu, siswaku!

Wassalam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar