'/>

Senin, 30 Mei 2011

Masih Pantaskah Jadi Pendidik Guru yang Perokok?

Banyak orang pintar dan terdidik, bahkan pendidik namun merokok juga. Apakah tidak ada kaitan antara harus merokok dengan logika kepintarannya? Apakah tidak lengkap kalau tidak merokok? Apakah pantas dan harus dimaklumi seorang pendidik merokok meskipun sedang tidak di lingkungan sekolah? Apakah ia tak sadar itu akan ditiru siswanya? Guru tapi perokok? Apa mau mengajari siswa merokok juga? Pembenaran dan pengelakan lagi?!
Semua ruang umum berbau pendidikan diupayakan disterilkan dari iklan rokok. Hanya iklan saja yang di dalamnya tertulis peringatan merokok tidak baik untuk kesehatan pun tidak boleh bebas mengiklankan diri. Ruang publik pertelevisian pun hanya diberikan jam iklan khusus. Itu pun tidak boleh ditampakkan rokoknya. Iklan rokok ini rupanya hanya terjadi di Indonesia. Negara yang belum punya komitmen untuk menyehatkan rakyatnya. Hanya memikirkan keuntungan jangka pendek. Guru perokok malah lebih memprihatinkan,  ia tidak dibayar untuk mengiklankan rokok yang dihisapnya tetapi secara tak disadarinya guru perokok itu menjadi media iklan yang tak dibayar!
Prilaku guru itu tidak dapat diparsialkan. Profesi guru itu bersifat melekat berlaku 24 jam. Di luar sekolah juga tetap disebut guru, apalagi kepala sekolah. Apakah pantas pendidik turut ‘mengkampanyekan’ gerakan ayo merokok dengan aktivitas merokok-nya? Kalau diingatkan selalu saja berseloroh yang tidak mencerminkan prilaku seorang pendidik, dengan mencari pembenaran. Tak pantas deh guru seorang perokok!
Sebuah pengingkaran logika akan aktivitas merokok bagi orang yang diberi akal. Apalagi kalau diri kita seorang guru. Mungkin kalau bukan guru mencari dalih pembenaran untuk merokok masihlah dimaklumi, kalau guru, itu sudah terlalu. Anda, temen saya, guru, kepala sekolah, yang baca tulisan ini pikirkanlah dan hentikanlah kebiasaan merokok itu. Banyak aktivitas pengalihnya kok, jangan cari alasan lain lagi, ya.
Andai logika yang ia pakai benar mestinya orang tidak akan mau merokok apapun alasannya. Soal kebiasaan, merokok jelas kebiasaan buruk. Merokok merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Carilah logika pembenarannya, yang kita dapat pastilah ingkaran akan logika normal. Ada cara elegan lain yang tidak merugikan diri, orang lain dan lingkungan kok. Mau tau? Pakai saja logika normal kita.
Anda, temen saya, mengaku berprofesi guru, tapi perokok, sudah saatnya hentikan kebiasaan buruk merokok. Anda mau semua anak didik anda jadi perokok? Anda tidak mengajarkan untuk merokok secara tak langsung, tapi mengajarkannya dengan prilaku anda yaitu prilaku merokok meskipun merokok di luar lingkungan sekolah. Sadarilah itu. Sayangi mereka juga keluarga anda dengan tidak mengasapinya dengan asap rokok.
Saya memang tidak suka merokok, tidak kuat asapnya itu. Tapi di rumah tetap saya siapkan asbak plus kipas angin untuk temen saya kalau bertamu. Kipas angin untuk membuang asap rokoknya. Saya tidak bisa melarangnya, tapi hanya ingin menyadarkan saja utamanya teman-teman guru perokok, kalau saja mau siuman dari ketaksadaran merokok itu. Guru tidak sepantasnya jadi perokok, ayo berhentilah merokok…
Tahu model pendidikan karakter kan?! Apakah teman guru mau mengajarkan karakter manusia perokok kepada siswa (langsung atau tidak langsung)? Menghentikan kebiasaan buruk merokok tidaklah sulit, kecuali saudara memang suka berdalih mencari pembenaran untuk terus merokok. Tunjukkanlah karakter berdaya juang tinggi lewat perjuangan stop merokok. Semua pasti bisa.
Anak sekolah, sd, smp, sma mengalami peningkatan persentase signifikan untuk kegiatan merokok. Seperti yang ditulis Jawa Pos Online ini. Iklan rokok yang sukses dengan memberi kesan positif dan juga teladan orang sekitar membuat mereka mencoba dan merokok terus. Tak perduli orang tua, bahkan guru pun ikut memberikan contoh bagi anak untuk merokok. Kondisi Indonesia berbanding terbalik dengan negara maju. Ayaloh rekan guru hentikan merokok-mu, kau tak dibayar untuk mengiklankan rokok yang kau hisap itu kan?!
Teman guru… Merokoklah selama kau hidup. SIKSALAH dirimu sendiri, keluarga, siswa, teman, dan lingkunganmu dengan asap rokokmu. Lakukan terus jugan henti karena kau merasa kaulah orang terbaik yang selalu membantu petani tembakau, pekerja pabrik rokok, pengusaha rokok untuk selalu eksis. Tapi MAAF jangan lupa berhentilah terlebih dahulu dari profesi guru, profesi pendidik, kalau anda enggan berhenti merokok. Anda tak pantas jadi guru kalau tetap bertahan jadi seorang perokok!
Silahkan baca tautan berikut kalau berniat mau berhenti merokok:
Beberapa tulisan sarkas tentang merokok:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar