'/>

Jumat, 24 Juni 2011

Guru Tidak Kompeten, Siapa Mau Perduli?!

Salah satu kompetensi pedagogi adalah mengidentifikasi potensi, kemampuan awal belajar, serta kesulitan yang dimiliki siswa. Itu saja kalau kita guru mau lakukan dengan sungguh-sungguh  kita tidak pernah akan bisa santai, selalu sibuk dengan hiruk pikuk aktivitas keguruan yang pasti akan menghasilkan sesuatu. Jelas di sekolah  tidak akan sempat fesbukan dan menulis di blog, ngerumpi, main catur, baca koran, makan-makan. Belum lagi mengurusi kompetensi lainnya.

Identifikasi potensi, bekal awal belajar, serta kesulitan belajar selama dan setelah proses pembelajaran tentu diperlukan perangkat yang valid. Membuatnya perlu ‘tenaga ekstra’ dan otomatis waktu ekstra pula. Hehehe SAYA sbg guru belum lakukan semua itu. Padahal saya sudah BERSERTIFIKAT! Aneh banget khan?! Itulah SAYA guru! Apa…?!

Akar masalah siswa yang bermasalah secara akademik ternyata ini mutlak disebabkan kesalahan guru. Karena tidak melakukan identifikasi potensi, bekal awal belajar, serta identifikasi kesulitan belajarnya. Dalihnya dominan soal waktu, alias tidak sempat. Kalau kita mau melakukan 3 identifikasi tadi SEPERTINYA pembelajaran selanjutnya akan lancar.

Karena tuntutan kompetensi yang BERAT maka latar belakang pendidikan turut menentukan. Poligami dalam mengampu mata pelajaran sebisa mungkin memang harus dihindari. Tapi apa boleh buat, pelajaran IPA pun saya ‘pegang’. Akibatnya jelas hasilnya minim banget. Walapun secara matematis komptensi butir ke-20 mungkin 90% saya bisa kuasai. tapi yaitu tadi butir pertama tidak terlaksana 

Pendidikan di negeri ini memang menghadapi dilema kalau soal guru. Mau disortir guru-guru yang ada seperti saya ini, lah jumlahnya saja belum memadai alias kurang. Disortir lewat sertifikasi eh ternyata alat sortirnya tidak beres juga. Akhirnya tidak ada beda sebelum dan setelah sertifikasi. Kata bang Haji Rhoma Irama: “Yang malas makin males, yang rajin ketularan males… ” Sesungguhnya mental SAYA yang guru inilah yang menentukan. Apa memang perlu ada klinik mental guru yah biar sehat mentalnya. Kecuali dari sononya SAYA guru ini sudah tak bermental guru, alias karena sungguh terpaksa jadi guru.

Ok kembali ke topik kita tadi (emang makai topik nulis ngelantur gini?!), dalam identifikasi tentu diperlukan alat uji yang tepat. Dalam setiap mata pelajaran tentu kalau memenuhi tuntutan kompetensi guru sudah punya kemampuan, nyatanya oooo tidak ada. Kekurang tepatan dalam pelatihan-pelatihan  yang diagendakan pihak berwenang sering tidak relevan dari kebutuan seorang guru. karena ia bersifat top down. Tengoklah di negeri tetangga setiap guru pasti diberikan minimal setahun 3-4 kali sesuai program guru atau sekolah. Di Indonesia bisa jadi ada guru yang seumur-umur jadi guru tidak pernah ikut pelatihan dengan berbagai sebab. Termasuk pelatihan peningkatan kemampuan guru dalam mengatasi kesulitan belajar dan mengenali kemampuan awal siswa serta potensi tiap individu siswa. Padahal ini urutan pertama yang semestinya dikuasai seorang guru yang PROFESIONAL (seharusnya!)

Itu tadi masalah klasik, klasik banget pokoknya.

Jadi mental gurulah penentunya untuk bisa baiknya proses pembelajaran kita sekaligus akan baik hasilnya. Mau sudah disertifikasi dan menerima tunjungan profesi, diberi pelatihan, paham tugas-tugasnya tapi kalau mental guru jelek yah jelek hasilnya. Mari kita GURU untuk menormalkan mental kita, sedini mungkin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar