'/>

Jumat, 24 Juni 2011

Kompetensi Guru Dicuekin, Mengajar Seenaknya

Kalau guru lain sudah canggih dalam metode mengajarnya maka saya masih kuno, yah begitu-begitu saja. Sadar terlambat lebih baik daripada tidak mau beranjak untuk memperbaiki diri. Kadang mengajar tidak lebih dari mengandalkan apa yang di kepala tanpa persiapan pun masuk kelas. Karena merasa ‘hebat’ untuk materi yang akan diajarkan. Alhasil guru hebat seperti itu ternyata menghasilkan siswa sekarat.

Para guru sakti, mengajarpun biasa dengan tangan kosong. Karena sangat saktinya ia tidak perlu membawa apapun ke kelas. Siswapun terkesima dengan kesaktian sang guru. Masih banyak-kah guru-guru sakti zaman sekarang? Sepertinya sudah mulai punah. Patut dilestarikan tuh. Sayangnya guru sakti begitu malah tidak dianjurkan oleh ‘pakem’ mengajar jaman sekarang.

Mengajar dengan tanpa persiapan hasilnya memang berantakan (seperti guru sakti itu). Ini adalah salah satu sebab mengapa siswa kita sering mengalami kesulitan memahami apa yang kita sampaikan. Atau kalau tidak karena salah cara menyiapkan prosedur pembelajarannya. Guru seperti itu kadang anehnya, menanyakan sampai mana pelajaran pada pertemuan terakhir. Ini indikasi guru tidak melakukan persiapan, yang tahu siswa kan. Tapi apa yang bisa siswa lakukan terhadap guru semacam itu.

Sangat disayangkan tidak sedikit guru yang menyiapkan perangkat pengajarannya hanya karena alasan administrasi atau mau disupervisi. Inilah potret nyata guru profesional yang katanya sudah mengantongi sertifikat pendidik. Kita, guru seolah pingsan, tidak menyadari tugas guru itu mulya dan amat berat. Tapi karena sistem di negeri ini masih amburadul maka hal itu merupakan kesempatan empuk bagi guru untuk berleha-leha dan malas belajar lagi.

Jumlah siswa yang tambun semestinya membuat guru selalu sibuk untuk menyiapkan segala sesuatunya. Tapi di ruang-ruang guru di negeri ini masih ada saja guru yang asyik mahsyuk ngerumpi. Padahal di mejanya terongok setumpuk buku siswa yang tak kunjung disentuh. Masih mending ia rajin membaca, mengali ilmu, berbagi ilmu dengan rekan seprofesi di daratan lain di negeri ini atau aktif diskusi di milis yang mencerahkan diri. Duh…

Guru-guru yang tidak tahu tugasnya semestinya membaca kembali tuntutan standar kompetensi guru.  Misalnya membuat matrik apa yang belum dia kerjakan dan kuasai. Tapi apa ada sih guru yang tidak tahu tugas dan tanggung jawabnya?  Ups, gak perlu dijawab yah. Kalau mau coba saja periksa pada kompetensi profesional itu sudahkan ia penuhi semua. Sayangnya belum semua guru tahu kompetensi profesionalnya itu apa saja. Halah jangankan melakukan, baca aja belum pernah. Sungguh terlalu…!

Jika kita para guru memahami kompetensi pedagogi yang berjumlah 10 bagian itu, maka barang kali kita tak punya waktu luang untuk santai saat di sekolah. Tapi nyatanya kita malah bisa santai sesantai-santainya. Jadi ingat, rekan kita guru di Singapore tak satupun yang terlihat ngobrol dengan sesamanya. Mereka sibuk dengan akitaivitasnya yang kalau di indonesia layaknya pegawai bank. Kita?!

Pak Syarif Anda kok getol dengan TIK, pak Syarif apa sudah baca kompetensi guru? Hah… Belum?! Getol dengan TIK itu termasuk dalam kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional tau?! Makanya baca tuh lampiran permendiknas no 16 tahun 2007.

Kompetensi guru, guru apapun kita terkait TIK yaitu pada kompetensi pedagogik: memanfaatkan TIK untuk kepentingan pembelajaran, pada kompetensi profesional: memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan pengembangan diri. Itu sebagian kecil saja dari kompetensi yang harus kita punya sebagai guru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar