'/>

Jumat, 24 Juni 2011

Kekurangtepatan Penggunaan Kata Kimia

ata kimia sering dipadukan dengan kata lain untuk membentuk istilah baru, yang kandang sering salah. Anehnya kesalahan itu menjadi suatu kelaziman dengan memaknai bahwa itu benar yang dimaksud.
Misalnya makanan itu bebas zat kimia dan pupuk kimia. Kalau mau disangkal bahwa setiap benda itu merupakan zat, dimana zat itu merupakan kombinasi senyawa atau campuran zat kimia. Jadi jelas tidak mungkin ada benda yang bebas zat kimia. Udara bersih pun dipastikan mengandung zat kimia setidaknya mengandung oksigen.

Mungkin lebih tepatnya untuk penggunaan pada makanan menggunakan istilah makanan mengandung zat kimia berbahaya. Sekali lagi tidak satupun makanan yang bebas zat kimia. Tapi ada makanan yang memang bebas dari zat kimia berbahaya. Bahkan sering kali kita mendengarkan penggunaan istilah yang tidak tepat seperti itu diungkapkan para reporter televisi. Ini jelas tidak mengedukasi masyarakat, sehingga kekeliruan itu berkepanjangan dan akhirnya kekeliruan itu menjadi hal lazim.

Di dunia pertanian pun sering kali menggunakan kata kimia untuk istilah yang kurang tepat. Penggunaan istilah pupuk kimia, adakah pupuk yang tersusun dari zat bukan kimia, lebih lanjut adakah zat yang bebas dari bahan kimia ? Tentu saja tidak ada benda yang bebas dari zat kimia, semua mengandung zat kimia. Kalau yang dimaksud adalah pupuk buatan prabrik yang menggunakan bahan-bahan kimia an-organik maka lebih tepat memang menggunakan istilah pupuk an-organik misalnya KCl (kalium klorida), TSP. Jadi benar-benar pupuk dengan bahan anorganik. Ada juga yang mengklasifikasikan pupuk urea termasuk jenis pupuk anorganik padahal itu jelas-jelas pupuk organik.

Mungkin perlu dilakukan pelurusan pengklasifikasian jenis pupuk, ada pupuk buatan dan ada pupuk alami. Pupuk alami memang berasal dari alam yang kemudian dikelolah jadi kompos terlebih dahulu kemudian digunakan, atau dengan membiarkan membusuk disekitar tanaman sampai menjadi penyedia unsur hara bagi tanaman itu. Jelas semua itu mengandung unsur hara yang tidak lain adalah unsur atau senyawa kimia hasil peruraian atau pembusukan oleh kondisi atau makhluk renik. Nah unsur hara inilah yang kemudian diserap oleh tumbuhan melalui akar dalam bentuk larutan hara dalam air.

Pupuk buatan (sintetis) adalah pupuk olahan pabrik yang menggunakan bahan kimia tertentu, bukan dari alam langsung. Pupuk sintetis ini juga diklasifikasikan menjadi pupuk sintetis organik dan pupuk sintetis anorganik. Istilah kelirunya semua pupuk buatan pabrik ini oleh orang awam disebut sebagai pupuk kimia. Perlu sekali untuk meluruskan istilah ini sehingga masyarakat paham dengan apa yang diucapkan. Meskipun mereka memahami bahwa istilah yang pupuk kimia itu adalah pupuk buatan pabrik. Karena sudah tahu begitu tapi tetap saja masyarakat tetap enggan menggunakan istilah yang benar.

Lagi soal penggunaan istilah sampah organik dan anorganik. Misalnya plastik sering dikelompokan sebagai sampah anorganik, padahal kita tahu bahwa plastik jelas-jelas bahan organik. Mungkin perlu penjelasan soal zat organik dan zat anorganik. Harapannya tidak terjadi kekeliruan lagi meskipun kadang mengklasifiksikan zat organik atau zat anorganik itu tidak gampang. Zat organik adalah zat yang semula hanya berasal dari makhluk hidup meskipun belakangan sudah bisa disintesis. Biasanya zat organik ini unsur penyusun utamanya mengandung salah satu atau lebih unsur C, H, O, P, S dan sedikit unsur halogen. Zat anorganik adalah zat berasal dari bukan makhluk hidup tetapi dari alam atau sintetis. Memang tidak mudah membiasakan menggunakan istilah yang tepat yang bisa digunakan pahami masyarakat. Bahkan suatu ketika saya melihat kotak sampah dituliskan barang-barang apa saja yang boleh dimasukan di tempat sampah tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar